Resensi Kajian Sirah Nabawi
Musholla Nurul Iman, 17 Oktober 2013
Musholla Nurul Iman, 17 Oktober 2013
Semoga Allah SWT memberkahi kajian kita dengan suatu keberkahan yang
bisa menjadi sebab kebahagiaan dan keselamatan kita. InsyaAllah. Aamiin
Seperti yang sudah kita pahami dan ketahui, di setiap pertemuan ba’da
Qiroah Maulid, Salawat, Qasa’id dan sebagainya, kita lanjutkan dengan
pengkajian Sirah Nabawiyah atau Biografi Sejarah Hidup Nabi Muhammad
SAW. Jika seseorang mengakui dan mengikut kepada Rasul, maka hal
tersebut tidak mungkin sempurna tanpa mengenal Rasul itu sendiri. Dari
situ, perlu kita kaji untuk menyempurnakan diri kita agar senantiasa
dapat mengikuti Rasul dalam segala hal dan jangan sampai kita mengikuti
orang-orang, tokoh-tokoh maupun pihak tertentu yang justru mereka itu
bakal dimurkai Allah swt. Harapan yang lain, semoga kita makin kenal
sama Rasul dan paham tentang bagaimana Beliau menanggung dan mengemban
risalah yang besar dan juga Al-Quran yang juga merupakan mukjizat dari
Nabi Muhammad SAW.
Pertemuan yang lalu kajian sirah kita sudah sampai pada Bab Perang
Badar tahun 2 Hijriyah pada kisah awal terbunuhnya Umaiyah bin Kholaf.
Ada beberapa hal dalam kisah Umaiyah yang dapat kita pelajari yakni
tentang bagaimana sikap Umaiyah Bin Kholaf yang tiba-tiba berubah
setelah mendengar kabar dari temannya, yakni Saad bin Mu’adz bahwa ia
akan terbunuh. Kemudian Umaiyah bersumpah bahwa Dia tidak bakal keluar
dari Mekkah. Allah SWT sendiri telah menetapkan seseorang misal si A
bakal kena adzab, mati kufur, bakal meninggal, dijadikan tawanan perang
dan sebagainya. Itu sebenarnya sudah ada dalam Ilmu Allah SWT. Akan
tetapi, hal-hal yang perlu dipahami bahwa jika kita lihat di kisah
terbunuhnya Umaiyah Bin Kholaf ini, ketika Ia sudah tersinggung karena
diejek oleh temannya, saat itu Umaiyah langsung tidak memikirkan lagi
apa akibat dari tersinggungnya, apakah nanti bakal mati atau tidak saat
dia diejek seperti ibu-ibu oleh temannya si Uqbah Bin Abi Mu’idz. Jadi
dari sepintas kisah tadi bisa diambil pelajaran bahwa jika seseorang
ingin membangkitkan sisi keberanian seseorang itu bisa dilakukan dengan
mengejek atau menyinggung seseorang tersebut dengan hal-hal yang
berkaitan dengan kewanitaan seperti “Bencong lu, kayak ibu-ibu” dll.
Siasat seperti inilah yg terkadang dipake untuk mengadu domba antar
ummat.
Maka seketika itu juga Umaiyah pulang ke rumah dan bilang ke istrinya
untuk menyiapkan keperluan perang. Kemudian istri Umaiyah mengingatkan
apakah Ia lupa dengan yang dikatakan oleh saudaranya yang dari Yastrib,
yakni Saad Bin Mu’adz, bahwa Ia akan terbunuh.? Umaiyah Bin Kholaf pun
berkata bahwa Dia tidak ingin mengikuti mereka dan juga ingat apa yang
dikatakan Saad Bin Mu’adz. Umaiyah hanya bermaksud untuk ikut mereka
dalam jarak dekat saja kemudian pulang lagi ke Mekkah yakni sekedar
berpura pura yang penting terhindar dari ejekan si Uqbah. Ketika
teman-temannya mengetahui bahwa Umaiyah ini ada kemungkinan untuk kabur,
maka diikatlah unta yang dikendarai Umaiyah Bin Kholaf hingga akhirnya
Dia terbawa hingga medan Perang Badar.
Dari sekilas kisah Umaiyah di atas ada beberapa pelajaran dan hal yg penting untuk kita perhatikan yakni di antaranya:
1- Umaiyah walaupun kafir dan musyrik tetapi jika ada sabda /
perkataan Rasulullah yg dia dengan dari orang maka dia sepontan percaya
begitu juga istrinya. Bagaimana dengan kita yg mengaku beriman..? Malah
jika ada hadis dikaji dan dibacakan kita seperti orang yg tidak percaya
dan tidak beriman. Buktinya tidak ada perubahan dan praktek dari Hadis
yg kita dengar tersebut. Berbeda dengan Si Kafir Umaiyah yg spontan
bereaksi dan bersumpah tidak akan keluar Mekkah. Inilah pengaruh dari
kepercayaan dan keyakinan di dalam hati yakni adanya aksi dan reaksi.
Kalau kita beriman kepada ayat dan hadis maka apakah aksi dan reaksi
kita…?
2- Umaiyah sudah ditetapkan mati di perang Badar oleh Allah
walau pun dia sudah tahu dan berusaha tidak keluar dari kota Mekkah
bahkan bersumpah tapi pengetahuan dan usahanya itu tidak bisa
menghindarkan dirinya dari ketetapan Allah SWT. Walaupun dia licik
hendak pulang kembali ke Mekkah tapi Allah tetap tidak terkalahkan
rencanaNya sehingga Allah lah yg memberi ide dan membuat teman Umaiyah
mengikat ontanya sehingga Dia tidak bisa pulang dan sampai lah dia di
perang Badar dan terbunuh.
Diriwayatkan dalam Hadits Iman Buchori bahwa Umaiyah juga berteman
akrab dengan Sayyidina Abdurrahman Bin Auf RA. Sy Abdurrahman RA ini
termasuk dalam 10 Sahabat Besar yang dikabarkan masuk Surga pada saat
hidupnya oleh Rasul SAW. Namun sekarang hampir semua orang yang ingin
masuk Surga tapi tidak tahu 10 bintang Surga. Kalau seorang pecinta
bola, tidak kenal sama pemainnya, misalnya pecinta persikabo tapi dia
tidak tau siapa top scorer persikabo, bisa kah orang tersebut dibilang
sebagai penggemar persikabo? Tentu tidak, karena dia tidak kenal. Sama
seperti jika kita kepingin masuk Surga tapi tidak kenal bintang Surga
maka bisa-bisa dipertanyakan keinginan kita masuk surga itu benar atau
tidak. Para Ulama sudah menjelaskan dalam Kitab Sarah Nailul Raja’ jg di
kitab2 lain, disebutkan di sana setidaknya kita mengenal 4 Bintang
Surga (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar Sayyidina Ustman dan
Sayyidina Ali RA) , Nah sekarang ditambah Sayyidina Aburahman bin Auf
Bintang Surga yg kita kenal menjadi 5 orang. Jangan Sampai seperti orang
Syiah yg suka melaknat sahabat yg justru mereka itu adalah sebenarnya
Bintang penduduk surga. Mau masuk ke surga mana orang Syiah yg demikian
itu…?
Iman Buchori mengatakan bahwa Sayyidina Abdurrahman Bin Auf RA ini
berteman dengan Umaiyah Bin Kholaf. Dulu, nama Beliau bukan Abdurrahman
tetapi Abdu Amer. Kemudian ketika masuk Islam langsung berganti nama.
Nah masalah ganti nama ini juga menunjukkan keseriusan sesorang dalam
masuk Islam dan memeluk ajaran Islam. Kalo kita sekarang ini agamanya
sih memang Islam, tapi nama kita terkadang masih berbau-bau jawa, sunda,
adat dll karena kita masih menyayangi sifat kedaerahan dan adat
istiadat yg jauh dari warna dan nuansa Islam. Hal ini berbeda dengan
para Sahabat Rasulullah SAW. Para Sahabat dulu ketika mereka ingin
meninggalkan kejahiliyyahannya maka di saat mereka masuk Islam langsung
mengganti nama Jahailiyahnya yg walaupun itu dari orang tuanya yakni yg
tidak ada nuansa Islaminya. Hal itu termasuk di antara bentuk keseriusan
sahabat dan juga Sunnah Rasul saw. Rasul saw jika melihat ada sahabat
yang namanya tidak bener, langsung diganti oleh Beliau . Banyak Sahabat
yang namanya diganti kemudian juga diberi gelar. Kalau gelar nama sudah
diberikan Rasul, maka para sahabat pada merasa senang. Dan yg masih
berkaitan dengan nama juga, bahwa dulu Kakeknya Rasul punya cita-cita
terhadap cucunya. Dari situlah kenapa kok Rasul saw dikasih nama
Muhammad saw oleh kakeknya? Ini Karena Mbahnya punya cita-cita dan ingin
agar seluruh ahli penduduk langit dan bumi memuji kepada cucunya ini.
Akhirnya kata para Ulama, Allah wujudkan harapang dari kakeknya tadi
sehingga dapat dikatakan pula bahwa nama adalah harapan orang tua. Nah
bagaimana dengan nama kita? Mengandung harapan apa…?
Ketika Abdurrahman Bin Auf mengganti namanya, munculah masalah dengan
teman-teman jahiliyyahnya. Dalam kisah ini disebutkan begitu ketemu
dengan temannya Umaiyah.
Umaiyah berkata, “Wahai Abd Amer, apakah kamu tidak suka dengan nama yang diberikan oleh Bapak kamu?” Sy, Abdurrahman RA menjawab, “ Ya, saya tidak senang dengan nama yang diberi oleh bapak saya”. “Saya tidak kenal dengan yang namanya Arrahman, saya akan panggil kamu dengan nama lain saja” kata Umaiyah.
Umaiyah menunjukkan kebenciannnya sebagai orang kafir yang tidak suka
dengan nama-nama Islami. Jadi, seseorang yang kafir, pikirannya murni
kafir itu sejak dari dahulu sampai sekarang benci dengan nama-nama
Islam. Makanya di antara dakwah mereka adalah memunculkan dan
mengagungkan nama-nama yg tidak perlu dimunculkan dan diagungkan
sehingga ummat Islam lupa sama Nama bintang Islaminya dan lupa akan
harapan apa dibalik nama tsb.
Akhirnya dibuatlah semacam kesepakatan bahwa Umaiyah akan memanggil
Sy, Abdurrahman bin Auf RA dengan panggilan “Abdul Ilah”. Maka suatu
ketika Sy Abdurrahman RA berjalan melewati Umaiyah. Kemudian Umaiyan
memanggil Abdurrahman dengan panggilan Abdul Ilah, maka sy Abdurrahman
Bin Auf RA pun menoleh dan akhirnya ngobrol dengan Umaiyah. Begitu
Beliau hijrah ke Madinah, Sayyidina Abdurrahman RA menulis surat agar
Umaiyah menjaga kerabatnya begitu juga Abdurrahman RA bakal menjaga
kerabatnya Umaiyah yang ada di Madinah.
Pada kisah sebelumnya telah diceritakan bahwa akhirnya Umaiyah Bin
Kholaf sampai juga di Perang Badar. Saat itu, Umaiyah pergi bersama
anaknya, Ali Bin Umaiyah. Keikutsertaan Umaiyah di Perang Badar kemudian
diketahui oleh Sy Abdurrahman Bin Auf RA. Pada waktu itu, Sy,
Abdurrahman sedang membawa baju besi yang didapat dari rampasan perang.
Kemudian mereka berdua bertemu.
“Ya Abdul Amr!” panggil Umaiyah tetapi Sy, Abdurrahman tidak noleh. “Ya Abdul Ilah!”
dipanggil lagi oleh Umaiyah kemudian Sy, Abdurrahman baru menoleh. Sy,
Abdurrahman ditawari untuk menawan Umaiyah. Ini adalah tawaran yg
menggiurkan sebab satu orang tawanan memiliki nilai tebusan sebanyak
4000 dirham atau sekitar 200 juta (ini jika krus 1 dinar = Rp50rb bahkan
bisa lebih) . Sy, Abdurrahman kemudian setuju dan membuang baju besi
yang ia bawa. Tangan Umaiyah kemudian diikatkan kepada tangan Sy,
Abdurrahman. Umaiyah berkata “Saya tidak pernah tahu perang seperti hari ini sama sekali, ini perang luar biasa, aneh bin ajaib. Kok bisa kalah” kata Umaiyah.
Akhirnya Sy, Abdurrahman keluar dari perang membawa 2 tawanan yakni
Umaiyah dan anaknya. Anak umaiyah, Ali bin Umaiyah bertanya kepada Sy,
Abdurrahman “Ya Abdul Ilah, siapa laki-laki yang punya tanda di dadanya itu?” “Itu Hamzah”
Jawab Abdurrahman. Sayyidina Hamzah Bin Abdul Mutholib adalah sahabat
yang berhasil menekuk lutut Umaiyah. Tiba-tiba, mereka bertiga bertemu
dengan Sy, Bilal Bin Rabbah. Sy, Bilal RA merupakan orang yang dulu
pernah diazab oleh Umaiyah dengan memanggangnya di panas padang pasir.
Begitu bertemu, Sayyidina Bilal berkata “Itu dedengkot kekufuran, saya tidak bakal selamat kalau dia juga masih hidup”. Sy, Bilal pun berteriak “wahai para sahabat Anshoor…!! ini dia si Musuh Allah Umaiyah bin Kholaf”. Kemudian teman-teman Anshor berdatangan dan sepontan mengejar Sayyidina Abdurrahman, Umaiyah dan juga anaknya.
Begitu dikejar, Sy, Abdurrahman melakukan siasat cecak. Nah, cecak
itu kalo ingin selamat ninggalin buntut atau ekornya untuk mengalihkan
perhatian biar tidak ngejar badan. Akhirnya supaya selamat, maka Sy,
Abdurrahman melepaskan Ali kemudian dia lanjut melarikan diri. Walaupun
begitu, Sahabat Anshor tetap mengerjar Sy, Abdurrahman dan Umaiyah.
Namun Karena badan Umaiyah yang besar, maka larinya jadi berat dan
terkejar oleh Sahabat Anshor. Seketika itu, Sy, Abdurrahman menyuruh
Umaiyah untuk telungkup. Sy, Abdurrahman kemudian melindungi tubuh
Umaiyah dengan meniban badannya. Dikepunglah mereka itu oleh pasukan
Nabi Muhammad SAW. Anaknya yang sebelumnya telah dilepaskan, melakukan
perlawanan. Akan tetapi, karena masih anak-anak, mudah saja kakinya
ditebas dan terputus. Melihat anaknya gagal melawan terlukan dan
terbunuh, Umaiyah pun kemudian berteriak dengan teriakan yg sangat
keras, nangis, dan sedih. Tidak terima dengan apa yang terjadi terhadap
anaknya. Sy, Abdurrahman kemudian menyuruh Umaiyah untuk lari
menyelematkan diri sendiri. Sahabat Anshor mencoba menusuk beberapa kali
tetapi tidak mengenai Umaiyah. Umaiyah kemudian lari membawa pedang dan
rampasan perang. Bahkan Sayyidina Abdurrahman sempet terserempet pedang
Sahabat Anshor karena melindungi Umaiyah. Sy, Abdurrahman menyesali
perbuatan dan sikapnya Sy, Bilal RA. Namun demikian tidak ada kebencian
pada keduanya dan bahkan Sy, Abdurrahman jika ingat akan kisah tsb maka
Beliau mendoakan Sy, Bilal dan berkata “Semoga Allah merahmati Bilal, Aku kehilangan baju rampasan perang juga kehilangan tawanan perang”.
Berbeda dengan kita, kalo kita mungkin sudah saling menyalahkan dan
nyumpahin bukan ngedoain. Itu merupakan adab para Sahabat Nabi Muhammad
SAW. Ada banyak yang bisa dipelajari. Nanti juga akan diceritakan ada
seseorang yg digelari Rasul SAW dengan gelar si cecak anak si cecak
yakni suka bikin gara-gara dan begitu sudah mulai ribut dia pun kabur
persis semacam provokator.
Di akhir kisah diceritakan kemudian Umaiyah lari ke tempat di mana
dia bakal terbunuh seperti yang telah dikatakan Nabi Muhammad SAW di
saat sebelum peperangan di mulai. Maha Benar Allah swt dan RasulNya
Demikian ringkasan dari ceramah dan kajian sirah nabawi bersama Ust
Ahmad said. Semoga bermanfaat dan Insya Allah bersambung di kesempatan
yg akan datang…

0 komentar:
Posting Komentar