Assalamualaikum Wr Wb
Kalau kita ditanya tentang dimensi manusia tentu akan kita jawab bahwa dia adalah makhluk yg berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Namun di dalam kehidupan sehari-hari banyak di antara manusia baik yang muslim atau non
muslim, mereka selalu lebih memperhatikan tentang kesehatan jasmani
dibandingkan dengan kesehatan rohani. Bahkan sejak kecil kita yg
notabene muslim pun sering melupakan isyarat Syariat Islam bahwa di saat
setelah lahir si bayi sebelum diberikan kebutuhan jasminya yakni Asi
Perdana ( Collostrum ) orang tua dianjurkan terlebih dahulu mengazani di
telinga kanan si bayi. Mengapa demikian..? Ini tidak lain adalah dalam
rangka memenuhi tuntutan Rohaninya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh
para ulama, si bayi tadi jiwanya bertanya : siapa aku, di mana aku, akan
kemanakah aku, dan seterusnya, yg nantinya itu semua adalah pertanyaan
awal Rohani manusia setelah dia pertama kali memasuki alam dunia dan
jika tidak mendapatkan jawaban dia akan menjadi manusia yg tidak kenal
akan jati diri dan panggilan jiwanya. Dia akan bingung di dalam
menjalani kehidupan di alam dunia ini tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Hal ini penting karena
kebutuhan Rohani itulah yg lebih penting untuk didahulukan dari pada
kebutuhan jasmani. Sehingga diharapkan kelak di masa depannya dia sudah
terlatih mengurusi dan mementingkan masalah Rohani. Tapi
karena kita sendiri banyak yg lupa atau tidak tahu akan hal ini maka yg
terjadi di lapangan justru sebaliknya. Terbukti kebanyakan di antara
orang tua muslim sejak kecil anaknya hanya ditimbang dari sisi
jasmaninya saja, berapa berat badannya, sehatkah badannya dst. Dia lupa
bahwa Rohani manusia juga tumbuh, memerlukan perhatian, perawatan dan
terkadang bisa menjadi sakit Rohani atau sakit jiwa atau hatinya sakit.
Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana POSYANDU yg menimbang
perkembangan Rohani dan kesehatan bayinya. Hal ini terus berlalu bahkan
di saat usia tua dan sudah pensiun dari kerjaan pun di antara kita
sering melihat ada manusia masih seperti anak2 kecil, masih mengurusi
hoby, kebun, masih bermain dst. Padahal yg demikian itu menurut para
Ulama menunjukkan kekerdilan dan ketidakdewasaan Rohaninya atau dia
bahkan mengidap penyakit hati / Rohani yg parah yakni tidak percaya akan
hisab dan azab sehingga tidak melakukan persiapan walau udah pensiun
dan udah tua. Sebagaimana orang yg percaya mendung itu pertanda akan
turun hujan maka yg percaya akan turun hujan dia pasti sedia payung.
Wal-iyadzubillah.
Di Dalam Al-Quran, Allah swt menyatakan bahwa ada
orang yg “Di hati mereka ada penyakit” (في قلوبهم مرض) dan bahkan hal
ini diulang-ulang sampai 12 kali tersebar dalam beberapa surat di dalam
Al-Quran. Dan di surat Al-Hajj Allah swt bahkan menyatakan bahwa hati
terkadang tidak hanya sakit tapi bisa mengalami kebutaan hati.
{فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46)} [الحج: 46]
Sesungguhnya itu adalah bukan kebutaan mata akan tetapi hati yg ada di dadanya lah yg mengalami kebutaan. Bahkan
jika hati ini penyakitnya tidak segera terobati maka dia akan bertambah
parah. Dan Rasulullah saw di dalam sabdanya pun menyatakan bahwa
kesehatan seluruh jasad kita dipengaruhi oleh kesehatan dan kemaslahatan
bathin atau hati kita. Sebagaimana dalam hadis shohih dijelaskan :
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ
كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
[صحيح البخاري 1/ 20]
Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging jika dia
baik maka seluruh badan akan baik dan jika dia rusak maka seluruh badan
juga akan rusak. Ingatlah hal itu adalah hati (HR Bukhory). Dari
sini sudah seharusnya kita menyadari kekeliruan pepatah Yahudi yg
disusupkan di tengah umat Islam bahwa “di dalam tubuh yg sehat terdapat
terdapat jiwa yg kuat”. Selanjutnya pepatah itu dikembangkan lagi
menjadi “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”.
Hasil dari perang pemikiran ini adalah seperti yg sekarang ini kita
semua merasakan yakni manusia sangat perhatian terhadap raga, jasad dan
badan tetapi dia lupa akan
kesehatan Rohani dan persiapan kematian sehingga ga kaget kalau banyak
aki-aki nini-nini pake baju training joging tapi giliran ke musholla dan
ke majelis tinggal duduk dan dengar malas dan berat. Itu pertanda
apakah wahai saudaraku..? Kalau mereka ditanya kenapa tiap pagi lari
pagi dan jalan-jalan ..? mereka akan menjawab “iyaa kata dokter biar
sehat”. Bagaimana perilaku yg demikian itu kalau kata Rasulullah SAW..
Jika ada Sabda Rasul dan Kata Dokter manakah yg lebih mereka laksanakan
dan mereka dahulukan…? Mengapa ga kita tanyakan saja, apakah kalau hadir
ke Majelis membikin sakit, tambah parah dan mempercepat kematian dsb…?
Bukankan kalau kematian pasti datang baik orang itu sehat atau sakit…?
Bukankah surga dan neraka itu belum ada jaminannya tapi knp tidak dicari
dan persiapkan..? itulah suatu kenyataan yg sering kita temukan dalam
hidup sehari-hari kalau kita mau teliti sebenarnya sebab utamanya adalah
bahwa orang tsb hatinya lagi terjangkit suatu penyakit. Iyaa dia
hatinya atau Rohaninya sedang sakit.
Allah swt menyatakan dalam al-Quran :
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)}
[يونس: 57]
“Wahai segenap manusia, sungguh telah datang kepada kalian suatu
(kitab) yg berisi Nasehat dari Tuhan kalian dan Penyembuh bagi
(penyakit) apa yg ada di dalam dada, sebagai hidayah dan Rahmat bagi
orang yg beriman”. Dari ayat di atas atau dari ayat2 yg lain kita
ketahui bahwa al-Quran adalah obat penyembuh. Siapa yg tidak tahu dan
tidak yakin kalau al-Quran itu adalah obat hati..? kita semua sudah
tentu mengakui akan hal tersebut cuma kita terkadang sering lupa diri
tentang masalah obat, penyakit dan pengobatan apalagi kalau itu
kaitannya dengan obat hati, penyakit hati dan pengobatan hati.
Berbicara penyakit maka kita akan menemukan dua kenyataan dalam hal
tsb yakni penyakit dhohir dan penyakit bathin atau yang kita kenal
dengan badan dan penyakit hati. Dan Yang lebih perlu kita ingat lagi
bahwa di tengah Masyarakat kita belum ada klinik penyakit hati / bathin
yang buka 24 Jam. Hal ini tidak lain karena sangat jarangnya dokter
spesialis penyakit hati. Namun sebagaimana penyakit badan, dalam hal
penyakit hati pun para ulama mengatakan tidak banyak jauh berbeda,
terutama dalam hal pengobatannya, cara dan ciri kesembuhannya.
Dilihat dari jenis penyakitnya maka penyakit badan dan penyakit hati
hampir sama. Dalam hal penyakit badan maka tidak semua orang yang sakit
bisa mengobati sakitnya sendiri, tergantung dari ringan dan berat
penyakitnya. Ada yg penyakit luar dan ringan seperti gatal, panu, kadas
dll. Dan ada yg penyakit dalam atau penyakit berat seperti jantung,
ginjal dll. Nah bagaimana dengan penyakit hati..? Kalau tadi di awal
dikatakan oleh para ulama tidak jauh dengan penyakit badan maka di dalam
penyakit hati pun kalau kita mengkaji dari ulasan dan pembahasan para
Pakar Kesehatan Hati maka kita dapatkan bahwa penyakit hati pun ada
Ringan dan ada yg berat. Yang berat seperti Keingkaran dan Keragu-raguan
akan ketauhidan Allah, akan Kebenaran Kitab Suci dan para rasul serta
dalam hal yg berkaitan dengan hari akhir. Hal ini bisa dilihat dari
tanda-tandanya yg mana orang yg mengidap penyakit hati yg kelas berat
ini tentu mereka tidak akan mau bersyahadat, tidak melaksakan sholat
atau bolong-bolong dan seterusnya. Sedangkan yg dikategorikan penyakit
hati yg ringan yakni yang berkaitan dengan kemalasan kita untuk
mengerjakan anjuran dan hal-hal yg disunnahkan di dalam ajaran atau
syareat Islam. Namun sebagian ulama seperti Imam al-Ghozali berkata
bahwa jika seseorang sangat mudah meninggalkan sunnah yg sangat
dianjurkan atau mu’akkad berarti kategorinya dia adalah Kufrun Khofi
(kekufuran yg sekala masih tersembunyi) atau bisa juga mengidap penyakit
hati Humqun Jali (kebodohan yg terlalu parah akan syariat), hal ini
menurut hemat kami bisa tergolong penyakit hati kelas menengah.
Di samping masalah jenis penyakitnya ada juga hal yg perlu juga untuk
kita telaah lebih jauh yakni masalah obat dan pengobatannya. Tidak
semua orang yg sakit bisa bebas membeli dan meminum obat semaunya
sendiri. Terkadang di dalam menggunakan obat kita harus mengetahui
takaran atau dosis obat tsb. Bahkan jika termasuk obat yg keras
terkadang juga memerlukan resep dari dokter. Ini dalam kaitannya dengan
penyakit badan yg dhohir yg jelas kita bisa raba dan rasa. Nah
bagaimana dengan penyakit bathin atau penyakit hati…? Apakah kita cukup
melaksanakan apa yg dikatakan oleh Kang OPIK dalam syair lagu tombo
atinya…? Yakni apakah seseorang dengan semata-mata mengamalkan salah
satu dari lima obat hati seperti yg dikatakan dalam syair lagu tsb yakni
:
- membaca al-Quran dan merenungi maknanya,
- dengan puasa
- Berkumpul dengan orang sholeh
- sholat malam
- banyak berzikir, terus secara otomatis hati kita akan tersembuhkan
dari penyakitnya? Belum lagi halnya jika kita disanggah .. ”gimana kita
bisa mengobati diri sendiri yg hatinya lagi sakit parah dengan salah
satu di antara 5 tombo ati di atas? Jawabannya tentu dengan mudah bisa
kita jawab. Iya jawabannya adalah “Susah…!! Jangankan membaca al-Quran,
puasa dan Bangun Malam sholat, Kewajiban Sholat lima waktu atau Sholat
subuh aja kita sering kesiangan. Bagaimana kita bisa ingat membaca
dzikir kalau hati lagi galau, resah, banyak masalah kehidupan sedangkan
kondisi hati kita sangat parah penyakit kemalasannya atau bahkan sangat
tipis kadar imannya bahkan terkadang tidak lagi percaya bahwa itu adalah
obat penyembuh. Hal ini sebagaimana kenyataan yg terkadang terjadi di
sekitar kita ada seseorang yg diberi jamu atau ramuan terkadang tidak
percaya akan jamu dan ramuan tersebut. Atau dia tidak mau karena pahit
atau takut akan resiko pengobatan itu yg terkadang harus di suntik, di
operasi dsb.
Kalau kita kaji lagi lebih jauh, jika dalam masalah obad badan ada
aturan minumnya, bagaimana dengan Obat Hati ala Opick di atas. Berapa
ayat atau surat atau juz yg harus kita baca sehingga sembuh? Atau
bagaimana cara pembacaannya..? Sah kah atau berdampakkah jika kita
membaca al-Quran, dzikir dan sholat malam namun kita tidak tahu Niat dan
tata cara penyelenggaraan ibadah tsb dan tidak khusyu..? Sedangkan kita
tahu jika obat salah ramuan atau salah dosis bahaya dampaknya bagi
pasien itu sendiri. Bagaimana dengan obat untuk sakit hati tsb, berapa
ayat, surat apa, berapa kali
dzikir, berapa rokaat sholat malam dan di jam brp, kalau puasa pun hari
apa..? iya masih banyak lagi pertanyaan yg membikin kita bertanya
tentang obat hati ala kang Opik tsb.
Belum lagi kalau mau kita kaji lebih lanjut bahwa sebagaimana sakit
badan yg kita terkadang harus cek lab, maka dalam hal penyakit hati
ternyata kita juga harus bisa mengenali atau mencari hasil diagnosa akan
penyakit hati kita. Apakah penyakit hati kita ini bisa diobati dengan
obat yg bisa atau biasa kita minum atau kita ramu sendiri seperti dengan
cara 4 hal di atas, yg mana kalau kita lihat dari empat obat hati di
atas semuanya kita harus aktif mengobati atau meminum obat. Padahal kita
tahu terkadang pasien itu makan aja nggak sanggup. Bagaimana dengan
perihal penyakit hati…?
Di situlah ada obat hati yg paling mujarab yakni Berkumpul, bertemu
dengan orang sholeh. Seakan akan jika kita bertemu dan berkumpl sama
Beliau maka Beliau lah yg aktif mengobati. Kalau benar Beliau adalah
orang sholeh maka segala hal tentang Beliau bisa menjadi obat bagi hati
kita, kata-katanya, penampilan sikap dan perilakunya pun juga jadi
penawar hati. Bahkan terkadang sekilas memandang ke wajahnya saja kita
sudah mendapatkan obat dan tambahan iman. Hal ini sebagaimana dikatakan
oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihyanya :
قال جعفر بن سليمان مهما فترت في العمل نظرت إلى محمد بن واسع
وإقباله على الطاعة فيرجع إلي نشاطي في العبادة وفارقني الكسل وعملت عليه
أسبوعا [إحياء علوم الدين 2/ 184]
Berkata Imam Ja’far bin Sulaiman : “jika aku sedang mengalami
futur (berhenti, putus atau malas) dalam beramal sholeh maka aku melihat
ke Imam Muhammad bin Wasi’ dan bagaimana semangatnya Beliau menghadap
sepenuhnya di dalam ketaatan sehingga aku akan kembali semangat
beribadah dan kemalasan pun akan hilang dan aku bisa beramal untuk
seminggu”. Belum lagi jika Beliau yg memandang kita dengan rasa
penuh rahmat dan kasihan dan di hati Beliau berniat dan mendoakan tanpa
sepengetahuan kita. Berapa banyak orang yg hatinya tadinya mati namun
sebab dipandang oleh seorang wali dengan pandangan penuh rahmat maka
Allah pun menghidupan hati orang tsb dan menyembuhkannya. Itulah obat
hati yg sekarang sudah susah dicari di pasaran. Semoga Allah
mempertemukan kita dengan segenap orang orang sholeh yg bisa menjadi
penyembuh hati dan pembimbing kita dunia akherat..
Terakhir … Saudaraku Sakit badan ujungnya sampai mati tapi sakit hati
atau rohani akan terus kita bawa sampai di hari kiamat Nanti.. Semoga
hati kita mendapatkan obat dan kesembuhan sebelum datang kematian amin…
Assalamualaikum Wr Wb
Kalau kita ditanya tentang dimensi manusia tentu akan kita jawab bahwa dia adalah makhluk yg berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Namun di dalam kehidupan sehari-hari banyak di antara manusia baik yang muslim atau non
muslim, mereka selalu lebih memperhatikan tentang kesehatan jasmani
dibandingkan dengan kesehatan rohani. Bahkan sejak kecil kita yg
notabene muslim pun sering melupakan isyarat Syariat Islam bahwa di saat
setelah lahir si bayi sebelum diberikan kebutuhan jasminya yakni Asi
Perdana ( Collostrum ) orang tua dianjurkan terlebih dahulu mengazani di
telinga kanan si bayi. Mengapa demikian..? Ini tidak lain adalah dalam
rangka memenuhi tuntutan Rohaninya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh
para ulama, si bayi tadi jiwanya bertanya : siapa aku, di mana aku, akan
kemanakah aku, dan seterusnya, yg nantinya itu semua adalah pertanyaan
awal Rohani manusia setelah dia pertama kali memasuki alam dunia dan
jika tidak mendapatkan jawaban dia akan menjadi manusia yg tidak kenal
akan jati diri dan panggilan jiwanya. Dia akan bingung di dalam
menjalani kehidupan di alam dunia ini tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Hal ini penting karena
kebutuhan Rohani itulah yg lebih penting untuk didahulukan dari pada
kebutuhan jasmani. Sehingga diharapkan kelak di masa depannya dia sudah
terlatih mengurusi dan mementingkan masalah Rohani. Tapi
karena kita sendiri banyak yg lupa atau tidak tahu akan hal ini maka yg
terjadi di lapangan justru sebaliknya. Terbukti kebanyakan di antara
orang tua muslim sejak kecil anaknya hanya ditimbang dari sisi
jasmaninya saja, berapa berat badannya, sehatkah badannya dst. Dia lupa
bahwa Rohani manusia juga tumbuh, memerlukan perhatian, perawatan dan
terkadang bisa menjadi sakit Rohani atau sakit jiwa atau hatinya sakit.
Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana POSYANDU yg menimbang
perkembangan Rohani dan kesehatan bayinya. Hal ini terus berlalu bahkan
di saat usia tua dan sudah pensiun dari kerjaan pun di antara kita
sering melihat ada manusia masih seperti anak2 kecil, masih mengurusi
hoby, kebun, masih bermain dst. Padahal yg demikian itu menurut para
Ulama menunjukkan kekerdilan dan ketidakdewasaan Rohaninya atau dia
bahkan mengidap penyakit hati / Rohani yg parah yakni tidak percaya akan
hisab dan azab sehingga tidak melakukan persiapan walau udah pensiun
dan udah tua. Sebagaimana orang yg percaya mendung itu pertanda akan
turun hujan maka yg percaya akan turun hujan dia pasti sedia payung.
Wal-iyadzubillah.
Di Dalam Al-Quran, Allah swt menyatakan bahwa ada
orang yg “Di hati mereka ada penyakit” (في قلوبهم مرض) dan bahkan hal
ini diulang-ulang sampai 12 kali tersebar dalam beberapa surat di dalam
Al-Quran. Dan di surat Al-Hajj Allah swt bahkan menyatakan bahwa hati
terkadang tidak hanya sakit tapi bisa mengalami kebutaan hati.
{فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46)} [الحج: 46]
Sesungguhnya itu adalah bukan kebutaan mata akan tetapi hati yg ada di dadanya lah yg mengalami kebutaan. Bahkan
jika hati ini penyakitnya tidak segera terobati maka dia akan bertambah
parah. Dan Rasulullah saw di dalam sabdanya pun menyatakan bahwa
kesehatan seluruh jasad kita dipengaruhi oleh kesehatan dan kemaslahatan
bathin atau hati kita. Sebagaimana dalam hadis shohih dijelaskan :
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ
كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
[صحيح البخاري 1/ 20]
Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging jika dia
baik maka seluruh badan akan baik dan jika dia rusak maka seluruh badan
juga akan rusak. Ingatlah hal itu adalah hati (HR Bukhory). Dari
sini sudah seharusnya kita menyadari kekeliruan pepatah Yahudi yg
disusupkan di tengah umat Islam bahwa “di dalam tubuh yg sehat terdapat
terdapat jiwa yg kuat”. Selanjutnya pepatah itu dikembangkan lagi
menjadi “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”.
Hasil dari perang pemikiran ini adalah seperti yg sekarang ini kita
semua merasakan yakni manusia sangat perhatian terhadap raga, jasad dan
badan tetapi dia lupa akan
kesehatan Rohani dan persiapan kematian sehingga ga kaget kalau banyak
aki-aki nini-nini pake baju training joging tapi giliran ke musholla dan
ke majelis tinggal duduk dan dengar malas dan berat. Itu pertanda
apakah wahai saudaraku..? Kalau mereka ditanya kenapa tiap pagi lari
pagi dan jalan-jalan ..? mereka akan menjawab “iyaa kata dokter biar
sehat”. Bagaimana perilaku yg demikian itu kalau kata Rasulullah SAW..
Jika ada Sabda Rasul dan Kata Dokter manakah yg lebih mereka laksanakan
dan mereka dahulukan…? Mengapa ga kita tanyakan saja, apakah kalau hadir
ke Majelis membikin sakit, tambah parah dan mempercepat kematian dsb…?
Bukankan kalau kematian pasti datang baik orang itu sehat atau sakit…?
Bukankah surga dan neraka itu belum ada jaminannya tapi knp tidak dicari
dan persiapkan..? itulah suatu kenyataan yg sering kita temukan dalam
hidup sehari-hari kalau kita mau teliti sebenarnya sebab utamanya adalah
bahwa orang tsb hatinya lagi terjangkit suatu penyakit. Iyaa dia
hatinya atau Rohaninya sedang sakit.
Allah swt menyatakan dalam al-Quran :
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ
وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)}
[يونس: 57]
“Wahai segenap manusia, sungguh telah datang kepada kalian suatu
(kitab) yg berisi Nasehat dari Tuhan kalian dan Penyembuh bagi
(penyakit) apa yg ada di dalam dada, sebagai hidayah dan Rahmat bagi
orang yg beriman”. Dari ayat di atas atau dari ayat2 yg lain kita
ketahui bahwa al-Quran adalah obat penyembuh. Siapa yg tidak tahu dan
tidak yakin kalau al-Quran itu adalah obat hati..? kita semua sudah
tentu mengakui akan hal tersebut cuma kita terkadang sering lupa diri
tentang masalah obat, penyakit dan pengobatan apalagi kalau itu
kaitannya dengan obat hati, penyakit hati dan pengobatan hati.
Berbicara penyakit maka kita akan menemukan dua kenyataan dalam hal
tsb yakni penyakit dhohir dan penyakit bathin atau yang kita kenal
dengan badan dan penyakit hati. Dan Yang lebih perlu kita ingat lagi
bahwa di tengah Masyarakat kita belum ada klinik penyakit hati / bathin
yang buka 24 Jam. Hal ini tidak lain karena sangat jarangnya dokter
spesialis penyakit hati. Namun sebagaimana penyakit badan, dalam hal
penyakit hati pun para ulama mengatakan tidak banyak jauh berbeda,
terutama dalam hal pengobatannya, cara dan ciri kesembuhannya.
Dilihat dari jenis penyakitnya maka penyakit badan dan penyakit hati
hampir sama. Dalam hal penyakit badan maka tidak semua orang yang sakit
bisa mengobati sakitnya sendiri, tergantung dari ringan dan berat
penyakitnya. Ada yg penyakit luar dan ringan seperti gatal, panu, kadas
dll. Dan ada yg penyakit dalam atau penyakit berat seperti jantung,
ginjal dll. Nah bagaimana dengan penyakit hati..? Kalau tadi di awal
dikatakan oleh para ulama tidak jauh dengan penyakit badan maka di dalam
penyakit hati pun kalau kita mengkaji dari ulasan dan pembahasan para
Pakar Kesehatan Hati maka kita dapatkan bahwa penyakit hati pun ada
Ringan dan ada yg berat. Yang berat seperti Keingkaran dan Keragu-raguan
akan ketauhidan Allah, akan Kebenaran Kitab Suci dan para rasul serta
dalam hal yg berkaitan dengan hari akhir. Hal ini bisa dilihat dari
tanda-tandanya yg mana orang yg mengidap penyakit hati yg kelas berat
ini tentu mereka tidak akan mau bersyahadat, tidak melaksakan sholat
atau bolong-bolong dan seterusnya. Sedangkan yg dikategorikan penyakit
hati yg ringan yakni yang berkaitan dengan kemalasan kita untuk
mengerjakan anjuran dan hal-hal yg disunnahkan di dalam ajaran atau
syareat Islam. Namun sebagian ulama seperti Imam al-Ghozali berkata
bahwa jika seseorang sangat mudah meninggalkan sunnah yg sangat
dianjurkan atau mu’akkad berarti kategorinya dia adalah Kufrun Khofi
(kekufuran yg sekala masih tersembunyi) atau bisa juga mengidap penyakit
hati Humqun Jali (kebodohan yg terlalu parah akan syariat), hal ini
menurut hemat kami bisa tergolong penyakit hati kelas menengah.
Di samping masalah jenis penyakitnya ada juga hal yg perlu juga untuk
kita telaah lebih jauh yakni masalah obat dan pengobatannya. Tidak
semua orang yg sakit bisa bebas membeli dan meminum obat semaunya
sendiri. Terkadang di dalam menggunakan obat kita harus mengetahui
takaran atau dosis obat tsb. Bahkan jika termasuk obat yg keras
terkadang juga memerlukan resep dari dokter. Ini dalam kaitannya dengan
penyakit badan yg dhohir yg jelas kita bisa raba dan rasa. Nah
bagaimana dengan penyakit bathin atau penyakit hati…? Apakah kita cukup
melaksanakan apa yg dikatakan oleh Kang OPIK dalam syair lagu tombo
atinya…? Yakni apakah seseorang dengan semata-mata mengamalkan salah
satu dari lima obat hati seperti yg dikatakan dalam syair lagu tsb yakni
:
- membaca al-Quran dan merenungi maknanya,
- dengan puasa
- Berkumpul dengan orang sholeh
- sholat malam
- banyak berzikir, terus secara otomatis hati kita akan tersembuhkan
dari penyakitnya? Belum lagi halnya jika kita disanggah .. ”gimana kita
bisa mengobati diri sendiri yg hatinya lagi sakit parah dengan salah
satu di antara 5 tombo ati di atas? Jawabannya tentu dengan mudah bisa
kita jawab. Iya jawabannya adalah “Susah…!! Jangankan membaca al-Quran,
puasa dan Bangun Malam sholat, Kewajiban Sholat lima waktu atau Sholat
subuh aja kita sering kesiangan. Bagaimana kita bisa ingat membaca
dzikir kalau hati lagi galau, resah, banyak masalah kehidupan sedangkan
kondisi hati kita sangat parah penyakit kemalasannya atau bahkan sangat
tipis kadar imannya bahkan terkadang tidak lagi percaya bahwa itu adalah
obat penyembuh. Hal ini sebagaimana kenyataan yg terkadang terjadi di
sekitar kita ada seseorang yg diberi jamu atau ramuan terkadang tidak
percaya akan jamu dan ramuan tersebut. Atau dia tidak mau karena pahit
atau takut akan resiko pengobatan itu yg terkadang harus di suntik, di
operasi dsb.
Kalau kita kaji lagi lebih jauh, jika dalam masalah obad badan ada
aturan minumnya, bagaimana dengan Obat Hati ala Opick di atas. Berapa
ayat atau surat atau juz yg harus kita baca sehingga sembuh? Atau
bagaimana cara pembacaannya..? Sah kah atau berdampakkah jika kita
membaca al-Quran, dzikir dan sholat malam namun kita tidak tahu Niat dan
tata cara penyelenggaraan ibadah tsb dan tidak khusyu..? Sedangkan kita
tahu jika obat salah ramuan atau salah dosis bahaya dampaknya bagi
pasien itu sendiri. Bagaimana dengan obat untuk sakit hati tsb, berapa
ayat, surat apa, berapa kali
dzikir, berapa rokaat sholat malam dan di jam brp, kalau puasa pun hari
apa..? iya masih banyak lagi pertanyaan yg membikin kita bertanya
tentang obat hati ala kang Opik tsb.
Belum lagi kalau mau kita kaji lebih lanjut bahwa sebagaimana sakit
badan yg kita terkadang harus cek lab, maka dalam hal penyakit hati
ternyata kita juga harus bisa mengenali atau mencari hasil diagnosa akan
penyakit hati kita. Apakah penyakit hati kita ini bisa diobati dengan
obat yg bisa atau biasa kita minum atau kita ramu sendiri seperti dengan
cara 4 hal di atas, yg mana kalau kita lihat dari empat obat hati di
atas semuanya kita harus aktif mengobati atau meminum obat. Padahal kita
tahu terkadang pasien itu makan aja nggak sanggup. Bagaimana dengan
perihal penyakit hati…?
Di situlah ada obat hati yg paling mujarab yakni Berkumpul, bertemu
dengan orang sholeh. Seakan akan jika kita bertemu dan berkumpl sama
Beliau maka Beliau lah yg aktif mengobati. Kalau benar Beliau adalah
orang sholeh maka segala hal tentang Beliau bisa menjadi obat bagi hati
kita, kata-katanya, penampilan sikap dan perilakunya pun juga jadi
penawar hati. Bahkan terkadang sekilas memandang ke wajahnya saja kita
sudah mendapatkan obat dan tambahan iman. Hal ini sebagaimana dikatakan
oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihyanya :
قال جعفر بن سليمان مهما فترت في العمل نظرت إلى محمد بن واسع
وإقباله على الطاعة فيرجع إلي نشاطي في العبادة وفارقني الكسل وعملت عليه
أسبوعا [إحياء علوم الدين 2/ 184]
Berkata Imam Ja’far bin Sulaiman : “jika aku sedang mengalami
futur (berhenti, putus atau malas) dalam beramal sholeh maka aku melihat
ke Imam Muhammad bin Wasi’ dan bagaimana semangatnya Beliau menghadap
sepenuhnya di dalam ketaatan sehingga aku akan kembali semangat
beribadah dan kemalasan pun akan hilang dan aku bisa beramal untuk
seminggu”. Belum lagi jika Beliau yg memandang kita dengan rasa
penuh rahmat dan kasihan dan di hati Beliau berniat dan mendoakan tanpa
sepengetahuan kita. Berapa banyak orang yg hatinya tadinya mati namun
sebab dipandang oleh seorang wali dengan pandangan penuh rahmat maka
Allah pun menghidupan hati orang tsb dan menyembuhkannya. Itulah obat
hati yg sekarang sudah susah dicari di pasaran. Semoga Allah
mempertemukan kita dengan segenap orang orang sholeh yg bisa menjadi
penyembuh hati dan pembimbing kita dunia akherat..
Terakhir … Saudaraku Sakit badan ujungnya sampai mati tapi sakit hati
atau rohani akan terus kita bawa sampai di hari kiamat Nanti.. Semoga
hati kita mendapatkan obat dan kesembuhan sebelum datang kematian amin…

0 komentar:
Posting Komentar