Kamis, 31 Oktober 2013

Resensi Kajian Tafsir Harian di MT Darul Futuh Rabu 30 Okt 2013.
Tafsir Surat As-Sajadah Ayat 10 :
وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ (10)
“Dan mereka (orang musyrik) berkata : Apakah jika kami sudah hancur dan hilang di dalam bumi (terkubur) apakah kelak kami akan diciptakan baru lagi? Mereka (tidak hanya bertanya saja) bahkan mereka mengingkari akan perjumpaan dengan tuhan mereka”.
Ulama Ahli Tafsir berkata
يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنِ الْمُشْرِكِينَ فِي اسْتِبْعَادِهِمُ الْمَعَادَ حَيْثُ قَالُوا: {أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرْضِ} أَيْ: تَمَزَّقَتْ أَجْسَامُنَا وَتَفَرَّقَتْ فِي أَجْزَاءِ الْأَرْضِ (3) وَذَهَبَتْ، {أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ} ؟ أَيْ: أَئِنَّا لَنَعُودُ بَعْدَ تِلْكَ الْحَالِ؟! يَسْتَبْعِدُونَ ذَلِكَ، (4) وَهَذَا إِنَّمَا هُوَ بَعِيدٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى قُدْرَتهم الْعَاجِزَةِ، لَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى قُدْرة الَّذِي بَدَأَهُمْ وَخَلَقَهُمْ مِنَ الْعَدَمِ، الَّذِي إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ} [تفسير ابن كثير ت سلامة 6/ 360]
Berkata Imam Ibnu Kastir di dalam kitab Tafsirnya :
Allah swt berfirman mengabarkan tentang orang musyrik dalam hal bahwa mereka menganggab mustahil akan hari kebangkitan yakni ketika mereka mengatakan : “apakah jika kami sudah hilang di dalam bumi” yakni badan kami sudah hancur dan tercerai berai di dalam bagian perut bumi dan sudah sirna “apakah kami sungguh akan dalam penciptaan yg baru?” yakni apakah kami akan dikembalikan setelah keadaan kami sedemikian tersebut? Mereka menganggap hal tsb tidak mungkin atau jauh dari akal manusia. Dan yang demikian ini sebenarnya sangat jauh dari akal manusia jika sandarkan dan didasarkan kepada kekuatan mereka (manusia) yg sangat lemah. Tidak demikian jika disandarkan dan didasarkan kepada Sang Pencipta mereka dari awal yg mana awalnya menciptakan mereka dari ketidakadaan, yang mana (Sang Pencipta tsb) perintahNya jika menghendaki akan sesuatu hanya cukup berkata ‘jadilah’ maka akan terjadilah hal tsb. Oleh karena itu Allah berfirman “Bahkan mereka mengingkari akan perjumpaan dengan Tuhan mereka”.

Komentar Saya :

Allah swt di dalam surat As-Sajdah setelah sejak awal menceritakan bahwa al-Quran itu adalah ajaran dan pedoman hidup yg diturunkan oleh Allah swt bagi manusia yg mana tidak ada keraguan di dalamnya dan berisi kebenaran dan mendatangkan kebenaran. Kemudian Allah swt di dalam ayat selanjutnya menceritakan bahwa Allah yg menciptakan dan mengatur langit dan bumi, yg mana hal tersebut jika kita perhatikan bahwa dengan aturan dan pedoman dari Allah lah, –  yg terkadang aturan Allah itu kita sebut dengan Istilah hukum alam (istilah ini dipopulerkan agar kita lupa akan ayat ini) yg mana seharusnya kita sebut ‘Tadbiir Robbani’ – (diambil dari ‘Yudabbirul amro’), segalanya jadi berjalan berkesesuaian dan membawa maslahat dan manfaat bagi manusia. Angin bisa sepoi-sepoi. Matahari ,  bulan dan bintang tidak bertabrakan dan tidak terlambat terbitnya. Coba manusia yg diberi hak mengatur di langit dan di bumi, pasti langit dan bumi akan kacau sebagaimana terjadi di banyak belahan bumi yg diatur manusia tidak menggunakan aturan Allah. Yg terjadi malah kekacauan, kriminal, kejahatan dst jauh dari kedamaian, aman dan kebahagiaan itu sendiri.
Kemudian Allah swt menceritakan akan bagaimana awal mula penciptaan manusia dan keturunannya.  Bagaimana asal usul bahan dasarnya yg dari situ kita bisa mengerti karakteristik manusia sebagaimana bahan dasarnya yakni tanah tembikar. Jika airnya pas dan murni mudah dibentuk. Tapi jika kecampuran pasir dan kebanyakan air pun maka akan susah dibentuk.  Allah juga menceritakan bagaimana nikmat pendengaran, penglihatan dan hati manusia yg sejak lahir terus berkembang bertahap sesuai dan seiring sejalan sebagaimana yg Allah swt telah atur. Bayangkan jika untuk masalah penglihatan saja pertumbuhan dan perkembangannya diserahkan manusia. Berapa banyak yg akan mengalami kegagalan penglihatan. Tetapi Allah telah memberikannya dan menyempurnakannya bagi kita yg tadinya ada mata sejak lahir tapi belum bisa berfungsi dan akhirnya Allah swt pula yg memfungsikan mata tersebut. Itu semua diluar campur tangan manusia, semata mata nikmat dari Allah dan bentuk kekuasaan Allah swt yg bisa kita lihat dan rasakan.
Baru kemudian Allah menceritakan akan kekufuran dan kebodohan manusia yg mengingkari akan hari kebangkitan yg seharusnya jika selama ini dia melihat, meneliti, menggunakan akalnya dan merenungi akan segala yg terjadi di alam dan dalam dirinya, tentu dia tidak akan mengingkari  hari kebangkitan dan kekuasaan Allah swt tsb. Bahkan permasalahannya mereka tidak hanya tidak meneliti dan merenung. Kalau pun mereka sudah melihat dan menyaksikan tanda kebesara Allah seperti mukjizat yg terjadi pada Rasulullah pun mereka akan tetap mengingkari akan hari perjumpaan dengan Allah swt. Hal disebabkan karena mereka terlalu mengagungkan akan akal dan logika. Dan sayangnya pendidikan generasi muda dan anak-anak kita lebih mengedepankan akal dan logika ketimbang masalah keimanan dan kepasrahan terhadap Allah swt.
Di dalam Al-Quran Allah swt mengulang perkataan dan pertanyaan yg senada dengan hal tsb, yakni masalah ketidak percayaan mereka akan hari kebangkitan dan adanya pembalasan. Seperti dalam surat yasin : {قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78)} [يس: 78]
juga dalam surat al-Waqiah {وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (47)} [الواقعة: 47]
juga dalam surat as-Shoffat : {أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (16)} [الصافات: 16] dan beberapa tempat lagi di dalam al-Quran. Mengapa demikian karena ini adalah masalah inti dan kunci. Yakni bahwa seluruh perbuatan dan perilaku manusia itu muncul, terjadi dan terlaksana dengan baik tergantung dari system kepercayaan yg terbentuk dalam diri manusia. Dan dari ruang lingkup masalah inilah muncul semua perbuatan, karya, perilaku, penelitian, ibadah dan kemaksiatan di muka bumi. Awalnya bermula dari adanya keyakinan, kepercayaan dan keimanan akan kebangkitan dan pembalasan dari Allah swt. Atau sebaliknya karena tidak adanya keyakinan, tidak percaya dan ingkar atau persepsi yang salah akan kehidupan di dunia ini dan bagaimana nanti kesudahannya setelah kematian dan kiamat.
Gambaran sederhananya adalah jika di malam hari yg sudah larut dan sepi kendaraan ada seorang pengendara motor melewati perempatan yang lampu merahnya masih hidup dan saat itu menyala merah. Apa yg akan dia lakukan tergantung dari system kepercayaan yg ada pada diri pengendara tersebut. Jika dia yakin sudah malam ga ada yg lalu lalang dan tidak akan ada kendarakan yg tiba-tiba lewat maka dia akan menerobos lampu merah karena menurut keyakinan dan kepercayaan dia aman-aman saja kok dan lagian tidak ada polisi. Tapi jika di dalam kepercayaan dia tertanamkan bahwa terkadang polisi bersembunyi di depan dan setelah kita menerobos lampu merah dia akan menilang kita maka si pengendara tadi tentu akan bersabar menunggu lampu merah sampai berganti hijau. Padahal belum tentu benar di depan ada polisi yg menghadang dst.
Kaitannya dengan ayat ini adalah, jika setiap individu manusia yakin dan percaya bahwa dia di dalam hidup dan kehidupan ini bukan suatu kesia-siaan dan kebetulan saja, akan tetapi adalah suatu pengabdian yg akan kita pertanggungjawabkan segala detail ucapan dan perbuatan kita di hari kebangkitan dan perjumpaan dengan Allah sang Pencipta, tentu kita akan selalu perhatian, hati hati dan pertimbangan dalam setiap perilaku dan perkataan sekecil apapun hal tsb. Sebab dia yakin dan percaya bahwa di dunia ini sementara dan singkat sedangkan di akherat itu sangat panjang dan kekal sehingga dia lebih memilih bersabar mengikuti aturan perintah dan larangan dari Allah swt. Iyaa dari pada dia harus menerima siksa selama seribu tahun di akherat gara gara dia pernah bermaksiat sekali saja dalam sehari ketika dia di didup dunia wal’iyadzubillah. Bagaimana kalau dia sehari melakukan sekian kali maksiat, maka berapa lama siksa yg akan dia terima di akherat kelak…?
Dari keyakinan inilah maka tidak heran jika dikatakan kepada Sayyidina Umar bin al-Khottob yg saat itu menjabat sebagai ‘Amirul Mukminin’ : “wahai amirul mukminin, kenapa anda tidak istrihat (tidur) di siang atau di malam hari”. Maka Pemimpin orang-orang yg beriman ini dengan penuh yakin menjawab singkat : ”jika aku tidur siang hari maka aku akan menelantarkan rakyatku, jika aku tidur di malam hari maka aku akan menelantarkan diriku sendiri kelak di hari kiamat”. Iya Beliau karena keyakinannya yg kuat berkat pendidikan ruhani dari Rasulullah SAW maka Beliau rela bersabar mengambil keputusan sedemikian itu yakni tidak tidur siang dan malam selama menjadi kholifah. Kenapa..? Beliau yakin bahwa kelak akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyat yg dipimpinnya. Dan di malam hari pun Beliau begadang beribadah karena takut siang harinya banyak keteledoran dan dosa maka bisa ditebus dan dimintakan ampun dengan begadang di malam hari beribadah, bermunajat mengharap rahmat dan ampunan dari Allah swt.
Bagaimana dengan kita saudaraku….?? yg masih enak tidur di siang dan malam hari. Iyaa itu  karena keyakinan kita akan nikmat umur dan segala nikmat dhohir batin ini akan dipertanggungjawabkan masih rendah dan sangat minim. Bahkan terkadang kita ragu dan lupa akan pertanggungjawaban itu. Oleh karena itu Allah swt berifrman di ayat berikutnya di surat yg sama di saat mereka melihat dan menyaksikan janji Allah benar mereka meminta dikembalikan ke dunia supaya bisa beramal sholeh (as-sajdah ayat 12). Dan di ayat berikutnya Allah katakan : “rasakan lah akibat kelupaan kalian akan hari perjumpaan (pertanggungjawaban) ini”.
Semoga tulisan singkat ini bisa memacu kita untuk menambah amal sholeh dan memperhitungkan segala perbuatan dan perkataan kita. Bagaimanakah nilainya di sisi Allah..? apakah yg kita lakukan itu ada pahalanya..? wajib, sunnah atau mubahkah…?? atau kita masih tidak percaya dan terus melakukan hal hal yg mubah, makruh dan bahkan yg haram. Wal iyaazubillah.
Imam Ghozali berkata dalam kitab bidayatul hidayah : perintah wajib dari Allah itu adalah modal pokok (bagi keselamatan kita di akherat) dan amalan yg sunnah itu adalah keuntungannya. Maukah anda Jika di dalam dagang selama 10 tahun modal 10 juta ternyata setalah selama itu kita hitung hanya balik modal saja yakni masih tetap 10 jt..? bagaimana dengan umur kita yg sudah berlalu sekian lama ini..? sudah berapakah keuntungan kita yg bisa kita harapkan untuk meraih keselamatan, kebahagiaan dan derajat di Akherat..? semoga kita semua termasuk orang yg beriman dan mendapat keuntungan dengan berusaha semaksimal mungkin menjaga waktu dan mengisinya dengan amal yg sholeh. Jika keyakinan dan iman kita meningkat maka amal sholeh dan sunnah pun akan meningkat.  Waallohu a’lam. wassalam

OBAT HATI

Posted by Unknown On 06.15 | No comments
Kata Opik tombo / obat hati ada 5 :
Baca Al-Quran, Wirid malam hari, Sholat malam, Puasa dan Bergaul dengan Orang Sholeh…
Masalahnya gimana bisa baca Al-Quran, wirid, sholat malem n puasa, apalagi dateng ke orang sholeh…nah kan hati nya lagi sakit alias males n banyak masalah…?
jadi kalo sakitnya masih penyakit luar mingkib bisa diobati sendiri hatinya dengan 4 hal tadi …
tapi kalo sudah penyakit dalam dan kronis maka siapa pun tidak bisa mengobati diri sendiri..walaupun dia seorang dokter..
padahal orang sholeh itu adalah dokter hati…
Tapi sahabat..terkadang jika penyakitnya sangat parah.. kan dia ga bisa bangkit dan berjalan untuk datang ke orang sholeh…
Dari situlah maka terkadang kedatangan orang sholeh sangat diharapkan sebagai solusi akhir atas penyakit hati kita yg sudah lama dan akut…
Terkadang di suatu zaman dan di suatu daerah keberadaan orang sholeh sangat langka ..karena itulah Hb abdullah Al-haddad berkata dalam kitab Nashoihnya..kitab kitab karangan ulama salaf dan biografi mereka itulah terkadang bisa sebagai pengganti orang sholeh…
Yaa Allah sembuhkan lah hati kami dengan al-Quran dan tafsirnya ini..dan jadikanlah kami orang orang yg sholeh yg jika saudara-saudara kami bergaul dengan kami walaupun di FB ini maka akan menjadi obat hati…
yaa Allah ..semoga ini bisa menjadi pengobat bagi saudara saudaraku yg telah lama sakit hatinya ..sehingga malas ibadah, berat dan tidak istiqomah di dalam mencari ridho Mu..
kepada siapa lagi kami mengadukan perihal kami jika kepada Mu pun kami tidak mendapatkan jawaban dan tidak dikabulkan..
Yaa Allah hanya Engkaulah yg bisa menyelasaikan segala carut marut dan keruwetan kami semua..kabulkanlah Yaa Ilaahiii.. Amiinnnn
Resensi singkat Kajian Setanologi  Rabu 25-Sept-2013
di Masjid Jamjum Bersama Temen2 Mahasiswa IPB (Nurul Fikri dan KMNU)
Dalam kisah Nabi Adam AS Sang Manusia pertama dan Iblis (yg kadang dipanggil syetan juga) Allah menceritakan bahwa setelah adanya satu pelanggaran (iya sekali lagi satu pelanggaran, bagaimana dengan dosa dan pelanggaran kita)  yang sebab kecilnya adalah syetan memperdaya Nabi Adam AS melalui perantaraan Istrinya Sang Wanita Pertama (sebagaimana dalam cerita dalam hadist dialog antara Allah dan Nabi Adam) dan Sebab Utama yang paling besar adalah Allah SWT yg berkehendak menulis sekenario cerita bahwa nanti Nabi Adam AS diturunkan setelah Syetan berhasil menggoda Beliau memakan buah yang dilarang oleh Allah di dalam Surga.
Setelah tadinya di surga, melanggar kemudian diturunkan dari Surga Nabi Adam AS diceritakan menerima kalimat dari Allah SWT dengan cara Talaqqi (menerima suatu teori atau ajaran kalimat dengan penuh adab, kesadaran dan pemahaman).
فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (37)
“Maka Nabi Adam mentalaqqi kalimat-kalimat dari Tuhannya sehingga Allah pun memberi taubat atasnya (menerima taubatnya) dan sessunggah Dia adalah Dzat yg Maha menerima taubat lagi maha penyayang” QS Al-Baqoroh ayat 37)

Wahai segenap saudaraku yg beriman terhadap Kisah dalam al-Quran yg dinyatakan oleh Allah SWT bahwa
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (111)
“Sungguh telah ada di dalam kisah-kisah mereka (para Nabi yg di Al-Quran) ini  suatu ibroh (pelajaran, nasehat) bagi orang yg mempunyai akal. Itu bukanlah suatu cerita yg dibuat-buat (fiktif, dongen tahayul atau kisah film dan sinetron yg omong kosong) akan tetapi hal itu merupakan bukti kebenaran kitab2 sebelumnya dan penjelasan akan segala sesuatu (permasalahan kehidupan dunia, agama atau akherat), petunjuk (kebahagiaan, keberhasilan, keselamatan, kesuksesan dsb) dan sebagai rahmat bagi segenap orang yg beriman (akan kisah tersebut sehingga mempelajari faktor2nya dan mengaplikasinya dalam kehidupan sehari-hari)
Kalau kita sudah percaya bahwa di dalam kisah Nabi Adam tersebut ada pelajaran bagi kita maka pelajaran apakah gerangan…?
Allah SWT sengaja di dalam ayat menyebutkan bahwa kalimat (doa) yg diterima Nabi Adam tersebut dinyatakan Min Robbihi. Dari pernyataan ini ada beberapa hal yg bisa kita simpulkan yang pertama :
-         Kejelasan sumber dari suatu kalimat atau ajaran itu penting di dalam menentukan kejelasan, kebenaran atas suatu pendapat atau ajaran yg beredar di sekitar kita. Terkadang kita lupa meneliti siapakah yg menulis, yg mengeluarkan statement, yg memberikan anilisa dan diagnosa dari suatu masalah di saat kita galau dan mendapat musibah akhirnya kita curhat kepada orang yg sama sekali tidak layak untuk dijadikan tempat curhat sehingga kita mendapatkan suatu kesimpulan yg salah atau terjerumus seperti Nabi Adam yg menerima nasehat dan omongan iblis dan istrinya. Padahal Beliau adalah orang sudah langsung mendapatkan pembelajaran dari Allah SWT segitu pun masih lupa. Bagaimana dengan kita yg belum mempunyai guru seperti Nabi Adam dan sering lupa dan terbawa opini yg tidak jelas sumbernya tsb. Sebagaimana Foto copy jika sumbernya jelas maka hasilnya pun akan jelas. Tapi jika sumbernya kabur dan tidak jelas maka hasilnya pun akan tidak jelas. Hasil yg tidak jelas tsb apabila di foto copy lagi maka akan semakin tidak jelas. Dari sini lah mungkin di antara salah sebab kenapa sekarang ini banyak majelis atau pesantren yg semakin tidak jelas atau sepi dan bahkan tutup. Mungkin di antara penyebabnya adalah ketidak jelasan sumber guru atau keilmuan yg di dapatnya. Yakni di dalam mengkaji ilmu agama harus ada kejelasan sumber atau guru yg mempunyai sanad berguru yang sampai bersambung kpd Rasulullah saw sehingga kita bisa tahu bahwa pemahaman itu adalah benar benar dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam shoheh Muslim :
عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: ” لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ.  ”[صحيح مسلم 1/ 15]
Dari Imam Ibnu Sirin : Dahulu para sahabat, tabiin dan ulama tidak pernah bertanya tentang sanad (penyandaran ilmu dan pemahaman agama) namun di saat sudah terjadi fitnah (peperangan antar ummat Islam) maka para ulama mengatakan : “sebutkan kepada kami siapakah guru-guru kalian, maka mereka melihat kpd setiap ulama ahli sunnah maka hadis, ilmu mereka pun akan diambil, dan jika bersumber dari ahli bid’ah maka tidak diambil hadis mereka.
Dari sini sangat disayangkan kalau ada orang yg masih mau belajar kepada para Prof, Dr atau titel-titel yg lain yg mana mereka jelas jelas tidak pernah belajar kpd para ulama bahkan mereka belajar Islamnya dari orang Kafir, dari Univ. Barat. Kalau gurunya saja kafir gimana muridnya bisa jadi beriman. Guru kencing berdiri murid kencing berlari.
-         Dari ayat itu juga maka para ulama sangat serius memperhatikan segala sesuatu hal yg datangnya dari Allah swt, dari Rasulullah saw, para ulama dan Auliya’ sholihin sebab menghasilkan suatu yg hal positif sebagaimana Nabi Adam begitu menerima kalimat yg dari Allah swt Beliau pun diterima taubatnya. Nah bagaimana dengan Mafhum Mukholafahnya atau pemahaman sebaliknya bagaimana jika kita menerima kalimat bukan dari Allah atau dari syetan seperti bisikan dan rayuan syetan..? jelas kita juga akan mengalami hal yg sama dihukum, turun derajat bahkan bukan hal yg mustahil kalau kita juga akan mendapat siksa dan laknat dari Allah swt. Dari sini pulalah mengapa orang kafir antek syetan gethol dan gemar menyebarkan kalimat-kalimat baik dalam bentuk tulisa, nyanyian syair dsb walaupun itu harus mengeluarkan modal. Hal ini tidak lain dan tidak bukan untuk mendukung program syetan yg sudah bersumpah akan menyeret dan mengajak sebanyak mungkin anak Adam ke neraka. Jadi jangan heran jika ada konser musik pasti yg hadir akan penuh tapi jika ada ceramah dan kajian hanya sedikit. Iyaa karena syetan tidak mendukung pengajian dan menghalanginya. Oleh karena itu mari kita sebarkan luaskan berbagai kalimat-kalimat positif, nasehat, ceramah dan kajian dari para ulama kita semoga bisa menghasilkan taubat bagi saudara kita dan orang-orang yg kita cintai, menghasilkan pahala, rahmat dan keridhoan Allah SWT. Amin..
Oleh karena itu marilah kita jaga apa yg masuk di telinga dan pemikiran anak kita, keluarga, saudara kita. Dari mana sumbernya… ??? jangan sampai kita mendapat laknat dari Allah gara gara anak kita mendengarkan lagu dari orang-orang yg dimurkai dan dilaknat oleh Allah SWT.
Assalamualaikum Wr Wb
Kalau kita ditanya tentang dimensi manusia tentu akan kita jawab bahwa dia adalah makhluk yg berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Namun di dalam kehidupan sehari-hari banyak di antara manusia baik yang muslim atau non muslim, mereka selalu lebih memperhatikan tentang kesehatan jasmani dibandingkan dengan kesehatan rohani. Bahkan sejak kecil kita yg notabene muslim pun sering melupakan isyarat Syariat Islam bahwa di saat setelah lahir si bayi sebelum diberikan kebutuhan jasminya yakni Asi Perdana ( Collostrum ) orang tua dianjurkan terlebih dahulu mengazani di telinga kanan si bayi. Mengapa demikian..? Ini tidak lain adalah dalam rangka memenuhi tuntutan Rohaninya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ulama, si bayi tadi jiwanya bertanya : siapa aku, di mana aku, akan kemanakah aku, dan seterusnya, yg nantinya  itu semua adalah pertanyaan awal Rohani manusia setelah dia pertama kali memasuki alam dunia dan jika tidak mendapatkan jawaban dia akan menjadi manusia yg tidak kenal akan jati diri dan panggilan jiwanya. Dia akan bingung di dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Hal ini penting karena kebutuhan Rohani itulah yg lebih penting untuk didahulukan dari pada kebutuhan jasmani. Sehingga diharapkan kelak di masa depannya dia sudah terlatih mengurusi dan mementingkan masalah Rohani. Tapi karena kita sendiri banyak yg lupa atau tidak tahu akan hal ini maka yg terjadi di lapangan justru sebaliknya. Terbukti kebanyakan di antara orang tua muslim sejak kecil anaknya hanya ditimbang dari sisi jasmaninya saja, berapa berat badannya, sehatkah badannya dst. Dia lupa bahwa Rohani manusia juga tumbuh, memerlukan perhatian, perawatan dan terkadang bisa menjadi sakit Rohani atau sakit jiwa atau hatinya sakit. Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana POSYANDU yg menimbang perkembangan Rohani dan kesehatan bayinya. Hal ini terus berlalu bahkan di saat usia tua dan  sudah pensiun dari kerjaan pun di antara kita sering melihat ada manusia masih seperti anak2 kecil, masih mengurusi hoby, kebun, masih bermain dst. Padahal yg demikian itu menurut para Ulama menunjukkan kekerdilan dan ketidakdewasaan Rohaninya atau dia bahkan mengidap penyakit hati / Rohani yg parah yakni tidak percaya akan hisab dan azab sehingga tidak melakukan persiapan walau udah pensiun dan udah tua. Sebagaimana orang yg percaya mendung itu pertanda akan turun hujan maka yg percaya akan turun hujan dia pasti sedia payung. Wal-iyadzubillah.
Di Dalam Al-Quran, Allah swt menyatakan bahwa ada orang yg “Di hati mereka ada penyakit” (في قلوبهم مرض) dan bahkan hal ini diulang-ulang sampai 12 kali tersebar dalam beberapa surat di dalam Al-Quran. Dan di surat Al-Hajj Allah swt bahkan menyatakan bahwa hati terkadang tidak hanya sakit tapi bisa mengalami kebutaan hati.
{فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46)} [الحج: 46]
Sesungguhnya itu adalah bukan kebutaan mata akan tetapi hati yg ada di dadanya lah yg mengalami kebutaan. Bahkan jika hati ini penyakitnya tidak segera terobati maka dia akan bertambah parah. Dan Rasulullah saw di dalam sabdanya pun menyatakan bahwa kesehatan seluruh jasad kita dipengaruhi oleh kesehatan dan kemaslahatan bathin atau hati kita.  Sebagaimana dalam hadis shohih dijelaskan :
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
[صحيح البخاري 1/ 20]
Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging jika dia baik maka seluruh badan akan baik dan jika dia rusak maka seluruh badan juga akan rusak. Ingatlah hal itu adalah hati (HR Bukhory). Dari sini sudah seharusnya kita menyadari kekeliruan pepatah Yahudi yg disusupkan di tengah umat Islam bahwa “di dalam tubuh yg sehat terdapat terdapat jiwa yg kuat”. Selanjutnya pepatah itu dikembangkan lagi menjadi “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”. Hasil dari perang pemikiran ini adalah seperti yg sekarang ini kita semua merasakan yakni manusia sangat perhatian terhadap raga, jasad dan badan tetapi dia lupa akan kesehatan Rohani dan persiapan kematian sehingga ga kaget kalau banyak aki-aki nini-nini pake baju training joging tapi giliran ke musholla dan ke majelis tinggal duduk dan dengar malas dan berat. Itu pertanda apakah wahai saudaraku..? Kalau mereka ditanya kenapa tiap pagi lari pagi dan jalan-jalan ..? mereka akan menjawab “iyaa kata dokter biar sehat”. Bagaimana perilaku yg demikian itu kalau kata Rasulullah SAW.. Jika ada Sabda Rasul dan Kata Dokter manakah yg lebih mereka laksanakan dan mereka dahulukan…? Mengapa ga kita tanyakan saja, apakah kalau hadir ke Majelis membikin sakit, tambah parah dan mempercepat kematian dsb…? Bukankan kalau kematian pasti datang baik orang itu sehat atau sakit…? Bukankah surga dan neraka itu belum ada jaminannya tapi knp tidak dicari dan persiapkan..? itulah suatu kenyataan yg sering kita temukan dalam hidup sehari-hari kalau kita mau teliti sebenarnya sebab utamanya adalah bahwa orang tsb hatinya lagi terjangkit suatu penyakit. Iyaa dia hatinya atau Rohaninya sedang sakit.
Allah swt menyatakan dalam al-Quran :
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)} [يونس: 57]
“Wahai segenap manusia, sungguh telah datang kepada kalian suatu (kitab) yg berisi Nasehat dari Tuhan kalian dan Penyembuh bagi (penyakit) apa yg ada di dalam dada, sebagai hidayah dan Rahmat bagi orang yg beriman”. Dari ayat di atas atau dari ayat2 yg lain kita ketahui bahwa al-Quran adalah obat penyembuh. Siapa yg tidak tahu dan tidak yakin kalau al-Quran itu adalah obat hati..? kita semua sudah tentu mengakui akan hal tersebut cuma kita terkadang sering lupa diri tentang masalah obat, penyakit dan pengobatan apalagi kalau itu kaitannya dengan obat hati, penyakit hati dan pengobatan hati.
Berbicara penyakit maka kita akan menemukan dua kenyataan dalam hal tsb yakni penyakit dhohir dan penyakit bathin atau yang kita kenal dengan badan dan penyakit hati. Dan Yang lebih perlu kita ingat lagi bahwa di tengah Masyarakat kita belum ada klinik penyakit hati / bathin yang buka 24 Jam. Hal ini tidak lain karena sangat jarangnya dokter spesialis penyakit hati. Namun sebagaimana penyakit badan, dalam hal penyakit hati pun para ulama mengatakan tidak banyak jauh berbeda, terutama dalam hal pengobatannya, cara dan ciri kesembuhannya.
Dilihat dari jenis penyakitnya maka penyakit badan dan penyakit hati hampir sama. Dalam hal penyakit badan maka tidak semua orang yang sakit bisa mengobati sakitnya sendiri, tergantung dari ringan dan berat penyakitnya. Ada yg penyakit luar dan ringan seperti gatal, panu, kadas dll. Dan ada yg penyakit dalam atau penyakit berat seperti jantung, ginjal dll. Nah bagaimana dengan penyakit hati..? Kalau tadi di awal dikatakan oleh para ulama tidak jauh dengan penyakit badan maka di dalam penyakit hati pun kalau kita mengkaji dari ulasan dan pembahasan para Pakar Kesehatan Hati maka kita dapatkan bahwa penyakit hati pun ada Ringan dan ada yg berat. Yang berat seperti Keingkaran dan Keragu-raguan akan ketauhidan Allah, akan Kebenaran Kitab Suci dan para rasul serta dalam hal yg berkaitan dengan hari akhir. Hal ini bisa dilihat dari tanda-tandanya yg mana orang yg mengidap penyakit hati yg kelas berat ini tentu mereka tidak akan mau bersyahadat, tidak melaksakan sholat atau bolong-bolong dan seterusnya. Sedangkan yg dikategorikan penyakit hati yg ringan yakni yang berkaitan dengan kemalasan kita untuk mengerjakan anjuran dan hal-hal yg disunnahkan di dalam ajaran atau syareat Islam. Namun sebagian ulama seperti Imam al-Ghozali berkata bahwa jika seseorang sangat mudah meninggalkan sunnah yg sangat dianjurkan atau mu’akkad berarti kategorinya dia adalah Kufrun Khofi (kekufuran yg sekala masih tersembunyi) atau bisa juga mengidap penyakit hati Humqun Jali (kebodohan yg terlalu parah akan syariat), hal ini menurut hemat kami bisa tergolong penyakit hati kelas menengah.
Di samping masalah jenis penyakitnya ada juga hal yg perlu juga untuk kita telaah lebih jauh yakni masalah obat dan pengobatannya. Tidak semua orang yg sakit bisa bebas membeli dan meminum obat semaunya sendiri. Terkadang di dalam menggunakan obat kita harus mengetahui takaran atau dosis obat tsb. Bahkan jika termasuk obat yg keras terkadang juga memerlukan resep dari dokter. Ini dalam kaitannya dengan penyakit badan yg dhohir  yg  jelas kita bisa raba dan rasa. Nah bagaimana dengan penyakit bathin atau penyakit hati…? Apakah kita cukup melaksanakan apa yg dikatakan oleh Kang OPIK dalam syair lagu tombo atinya…? Yakni apakah seseorang dengan semata-mata mengamalkan salah satu dari lima obat hati seperti yg dikatakan dalam syair lagu tsb yakni :
- membaca al-Quran dan merenungi maknanya,
- dengan puasa
- Berkumpul dengan orang sholeh
- sholat malam
- banyak berzikir, terus secara otomatis hati kita akan tersembuhkan dari penyakitnya? Belum lagi halnya jika kita disanggah .. ”gimana kita bisa mengobati diri sendiri yg hatinya lagi sakit parah dengan salah satu di antara 5 tombo ati di atas? Jawabannya tentu dengan mudah bisa kita jawab. Iya jawabannya adalah “Susah…!! Jangankan membaca al-Quran, puasa dan Bangun Malam sholat, Kewajiban Sholat lima waktu atau Sholat subuh aja kita sering kesiangan. Bagaimana kita bisa ingat membaca dzikir kalau hati lagi galau, resah, banyak masalah kehidupan sedangkan kondisi hati kita sangat parah penyakit kemalasannya atau bahkan sangat tipis kadar imannya bahkan terkadang tidak lagi percaya bahwa itu adalah obat penyembuh.  Hal ini sebagaimana kenyataan yg terkadang terjadi di sekitar kita ada seseorang yg diberi jamu atau ramuan terkadang tidak percaya akan jamu dan ramuan tersebut. Atau dia tidak mau karena pahit atau takut akan resiko pengobatan itu yg terkadang harus di suntik, di operasi dsb.
Kalau kita kaji lagi lebih jauh, jika dalam masalah obad badan ada aturan minumnya, bagaimana dengan Obat Hati ala Opick di atas. Berapa ayat atau surat atau juz yg harus kita baca sehingga sembuh? Atau bagaimana cara pembacaannya..? Sah kah atau berdampakkah jika kita membaca al-Quran, dzikir dan sholat malam namun kita tidak tahu Niat dan tata cara penyelenggaraan ibadah tsb dan tidak khusyu..? Sedangkan kita tahu jika obat salah ramuan atau salah dosis bahaya dampaknya bagi pasien itu sendiri. Bagaimana dengan obat untuk sakit hati tsb, berapa ayat, surat apa, berapa kali dzikir, berapa rokaat sholat malam dan di jam brp, kalau puasa pun hari apa..? iya masih banyak lagi pertanyaan yg membikin kita bertanya tentang obat hati ala kang Opik tsb.
Belum lagi kalau mau kita kaji lebih lanjut bahwa sebagaimana sakit badan yg kita terkadang harus cek lab, maka dalam hal penyakit hati ternyata kita juga harus bisa mengenali atau mencari hasil diagnosa akan penyakit hati kita. Apakah penyakit hati kita ini bisa diobati dengan obat yg bisa atau biasa kita minum atau kita ramu sendiri seperti dengan cara 4 hal di atas, yg mana kalau kita lihat dari empat obat hati di atas semuanya kita harus aktif mengobati atau meminum obat. Padahal kita tahu terkadang pasien itu makan aja nggak sanggup. Bagaimana dengan perihal penyakit hati…?
Di situlah ada obat hati yg paling mujarab yakni Berkumpul, bertemu dengan orang sholeh. Seakan akan jika kita bertemu dan berkumpl sama Beliau maka Beliau lah yg aktif mengobati. Kalau benar Beliau adalah orang sholeh maka segala hal tentang Beliau bisa menjadi obat bagi hati kita, kata-katanya, penampilan sikap dan perilakunya pun juga jadi penawar hati. Bahkan terkadang sekilas memandang ke wajahnya saja kita sudah mendapatkan obat dan tambahan iman. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihyanya :
قال جعفر بن سليمان مهما فترت في العمل نظرت إلى محمد بن واسع وإقباله على الطاعة فيرجع إلي نشاطي في العبادة وفارقني الكسل وعملت عليه أسبوعا  [إحياء علوم الدين 2/ 184]
Berkata Imam Ja’far bin Sulaiman : “jika aku sedang mengalami futur (berhenti, putus atau malas) dalam beramal sholeh maka aku melihat ke Imam Muhammad bin Wasi’ dan bagaimana semangatnya Beliau menghadap sepenuhnya di dalam ketaatan sehingga aku akan kembali semangat beribadah dan kemalasan pun akan hilang dan aku bisa beramal untuk seminggu”. Belum lagi jika Beliau yg memandang kita dengan rasa penuh rahmat dan kasihan dan di hati Beliau berniat dan mendoakan tanpa sepengetahuan kita. Berapa banyak orang yg hatinya tadinya mati namun sebab dipandang oleh seorang wali dengan pandangan penuh rahmat maka Allah pun menghidupan hati orang tsb dan menyembuhkannya.  Itulah obat hati yg sekarang sudah susah dicari di pasaran. Semoga Allah mempertemukan kita dengan segenap orang orang sholeh yg bisa menjadi penyembuh hati dan pembimbing kita dunia akherat..
Terakhir … Saudaraku Sakit badan ujungnya sampai mati tapi sakit hati atau rohani akan terus kita bawa sampai di hari kiamat Nanti.. Semoga hati kita mendapatkan obat dan kesembuhan sebelum datang kematian amin…
Assalamualaikum Wr Wb
Kalau kita ditanya tentang dimensi manusia tentu akan kita jawab bahwa dia adalah makhluk yg berupa kesatuan antara jasmani dan rohani. Namun di dalam kehidupan sehari-hari banyak di antara manusia baik yang muslim atau non muslim, mereka selalu lebih memperhatikan tentang kesehatan jasmani dibandingkan dengan kesehatan rohani. Bahkan sejak kecil kita yg notabene muslim pun sering melupakan isyarat Syariat Islam bahwa di saat setelah lahir si bayi sebelum diberikan kebutuhan jasminya yakni Asi Perdana ( Collostrum ) orang tua dianjurkan terlebih dahulu mengazani di telinga kanan si bayi. Mengapa demikian..? Ini tidak lain adalah dalam rangka memenuhi tuntutan Rohaninya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ulama, si bayi tadi jiwanya bertanya : siapa aku, di mana aku, akan kemanakah aku, dan seterusnya, yg nantinya  itu semua adalah pertanyaan awal Rohani manusia setelah dia pertama kali memasuki alam dunia dan jika tidak mendapatkan jawaban dia akan menjadi manusia yg tidak kenal akan jati diri dan panggilan jiwanya. Dia akan bingung di dalam menjalani kehidupan di alam dunia ini tidak mempunyai tujuan yang pasti.
Hal ini penting karena kebutuhan Rohani itulah yg lebih penting untuk didahulukan dari pada kebutuhan jasmani. Sehingga diharapkan kelak di masa depannya dia sudah terlatih mengurusi dan mementingkan masalah Rohani. Tapi karena kita sendiri banyak yg lupa atau tidak tahu akan hal ini maka yg terjadi di lapangan justru sebaliknya. Terbukti kebanyakan di antara orang tua muslim sejak kecil anaknya hanya ditimbang dari sisi jasmaninya saja, berapa berat badannya, sehatkah badannya dst. Dia lupa bahwa Rohani manusia juga tumbuh, memerlukan perhatian, perawatan dan terkadang bisa menjadi sakit Rohani atau sakit jiwa atau hatinya sakit. Tapi masalahnya dia tidak tahu di mana POSYANDU yg menimbang perkembangan Rohani dan kesehatan bayinya. Hal ini terus berlalu bahkan di saat usia tua dan  sudah pensiun dari kerjaan pun di antara kita sering melihat ada manusia masih seperti anak2 kecil, masih mengurusi hoby, kebun, masih bermain dst. Padahal yg demikian itu menurut para Ulama menunjukkan kekerdilan dan ketidakdewasaan Rohaninya atau dia bahkan mengidap penyakit hati / Rohani yg parah yakni tidak percaya akan hisab dan azab sehingga tidak melakukan persiapan walau udah pensiun dan udah tua. Sebagaimana orang yg percaya mendung itu pertanda akan turun hujan maka yg percaya akan turun hujan dia pasti sedia payung. Wal-iyadzubillah.
Di Dalam Al-Quran, Allah swt menyatakan bahwa ada orang yg “Di hati mereka ada penyakit” (في قلوبهم مرض) dan bahkan hal ini diulang-ulang sampai 12 kali tersebar dalam beberapa surat di dalam Al-Quran. Dan di surat Al-Hajj Allah swt bahkan menyatakan bahwa hati terkadang tidak hanya sakit tapi bisa mengalami kebutaan hati.
{فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (46)} [الحج: 46]
Sesungguhnya itu adalah bukan kebutaan mata akan tetapi hati yg ada di dadanya lah yg mengalami kebutaan. Bahkan jika hati ini penyakitnya tidak segera terobati maka dia akan bertambah parah. Dan Rasulullah saw di dalam sabdanya pun menyatakan bahwa kesehatan seluruh jasad kita dipengaruhi oleh kesehatan dan kemaslahatan bathin atau hati kita.  Sebagaimana dalam hadis shohih dijelaskan :
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
[صحيح البخاري 1/ 20]
Ingatlah bahwa di dalam tubuh ini ada segumpal daging jika dia baik maka seluruh badan akan baik dan jika dia rusak maka seluruh badan juga akan rusak. Ingatlah hal itu adalah hati (HR Bukhory). Dari sini sudah seharusnya kita menyadari kekeliruan pepatah Yahudi yg disusupkan di tengah umat Islam bahwa “di dalam tubuh yg sehat terdapat terdapat jiwa yg kuat”. Selanjutnya pepatah itu dikembangkan lagi menjadi “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat”. Hasil dari perang pemikiran ini adalah seperti yg sekarang ini kita semua merasakan yakni manusia sangat perhatian terhadap raga, jasad dan badan tetapi dia lupa akan kesehatan Rohani dan persiapan kematian sehingga ga kaget kalau banyak aki-aki nini-nini pake baju training joging tapi giliran ke musholla dan ke majelis tinggal duduk dan dengar malas dan berat. Itu pertanda apakah wahai saudaraku..? Kalau mereka ditanya kenapa tiap pagi lari pagi dan jalan-jalan ..? mereka akan menjawab “iyaa kata dokter biar sehat”. Bagaimana perilaku yg demikian itu kalau kata Rasulullah SAW.. Jika ada Sabda Rasul dan Kata Dokter manakah yg lebih mereka laksanakan dan mereka dahulukan…? Mengapa ga kita tanyakan saja, apakah kalau hadir ke Majelis membikin sakit, tambah parah dan mempercepat kematian dsb…? Bukankan kalau kematian pasti datang baik orang itu sehat atau sakit…? Bukankah surga dan neraka itu belum ada jaminannya tapi knp tidak dicari dan persiapkan..? itulah suatu kenyataan yg sering kita temukan dalam hidup sehari-hari kalau kita mau teliti sebenarnya sebab utamanya adalah bahwa orang tsb hatinya lagi terjangkit suatu penyakit. Iyaa dia hatinya atau Rohaninya sedang sakit.
Allah swt menyatakan dalam al-Quran :
{ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57)} [يونس: 57]
“Wahai segenap manusia, sungguh telah datang kepada kalian suatu (kitab) yg berisi Nasehat dari Tuhan kalian dan Penyembuh bagi (penyakit) apa yg ada di dalam dada, sebagai hidayah dan Rahmat bagi orang yg beriman”. Dari ayat di atas atau dari ayat2 yg lain kita ketahui bahwa al-Quran adalah obat penyembuh. Siapa yg tidak tahu dan tidak yakin kalau al-Quran itu adalah obat hati..? kita semua sudah tentu mengakui akan hal tersebut cuma kita terkadang sering lupa diri tentang masalah obat, penyakit dan pengobatan apalagi kalau itu kaitannya dengan obat hati, penyakit hati dan pengobatan hati.
Berbicara penyakit maka kita akan menemukan dua kenyataan dalam hal tsb yakni penyakit dhohir dan penyakit bathin atau yang kita kenal dengan badan dan penyakit hati. Dan Yang lebih perlu kita ingat lagi bahwa di tengah Masyarakat kita belum ada klinik penyakit hati / bathin yang buka 24 Jam. Hal ini tidak lain karena sangat jarangnya dokter spesialis penyakit hati. Namun sebagaimana penyakit badan, dalam hal penyakit hati pun para ulama mengatakan tidak banyak jauh berbeda, terutama dalam hal pengobatannya, cara dan ciri kesembuhannya.
Dilihat dari jenis penyakitnya maka penyakit badan dan penyakit hati hampir sama. Dalam hal penyakit badan maka tidak semua orang yang sakit bisa mengobati sakitnya sendiri, tergantung dari ringan dan berat penyakitnya. Ada yg penyakit luar dan ringan seperti gatal, panu, kadas dll. Dan ada yg penyakit dalam atau penyakit berat seperti jantung, ginjal dll. Nah bagaimana dengan penyakit hati..? Kalau tadi di awal dikatakan oleh para ulama tidak jauh dengan penyakit badan maka di dalam penyakit hati pun kalau kita mengkaji dari ulasan dan pembahasan para Pakar Kesehatan Hati maka kita dapatkan bahwa penyakit hati pun ada Ringan dan ada yg berat. Yang berat seperti Keingkaran dan Keragu-raguan akan ketauhidan Allah, akan Kebenaran Kitab Suci dan para rasul serta dalam hal yg berkaitan dengan hari akhir. Hal ini bisa dilihat dari tanda-tandanya yg mana orang yg mengidap penyakit hati yg kelas berat ini tentu mereka tidak akan mau bersyahadat, tidak melaksakan sholat atau bolong-bolong dan seterusnya. Sedangkan yg dikategorikan penyakit hati yg ringan yakni yang berkaitan dengan kemalasan kita untuk mengerjakan anjuran dan hal-hal yg disunnahkan di dalam ajaran atau syareat Islam. Namun sebagian ulama seperti Imam al-Ghozali berkata bahwa jika seseorang sangat mudah meninggalkan sunnah yg sangat dianjurkan atau mu’akkad berarti kategorinya dia adalah Kufrun Khofi (kekufuran yg sekala masih tersembunyi) atau bisa juga mengidap penyakit hati Humqun Jali (kebodohan yg terlalu parah akan syariat), hal ini menurut hemat kami bisa tergolong penyakit hati kelas menengah.
Di samping masalah jenis penyakitnya ada juga hal yg perlu juga untuk kita telaah lebih jauh yakni masalah obat dan pengobatannya. Tidak semua orang yg sakit bisa bebas membeli dan meminum obat semaunya sendiri. Terkadang di dalam menggunakan obat kita harus mengetahui takaran atau dosis obat tsb. Bahkan jika termasuk obat yg keras terkadang juga memerlukan resep dari dokter. Ini dalam kaitannya dengan penyakit badan yg dhohir  yg  jelas kita bisa raba dan rasa. Nah bagaimana dengan penyakit bathin atau penyakit hati…? Apakah kita cukup melaksanakan apa yg dikatakan oleh Kang OPIK dalam syair lagu tombo atinya…? Yakni apakah seseorang dengan semata-mata mengamalkan salah satu dari lima obat hati seperti yg dikatakan dalam syair lagu tsb yakni :
- membaca al-Quran dan merenungi maknanya,
- dengan puasa
- Berkumpul dengan orang sholeh
- sholat malam
- banyak berzikir, terus secara otomatis hati kita akan tersembuhkan dari penyakitnya? Belum lagi halnya jika kita disanggah .. ”gimana kita bisa mengobati diri sendiri yg hatinya lagi sakit parah dengan salah satu di antara 5 tombo ati di atas? Jawabannya tentu dengan mudah bisa kita jawab. Iya jawabannya adalah “Susah…!! Jangankan membaca al-Quran, puasa dan Bangun Malam sholat, Kewajiban Sholat lima waktu atau Sholat subuh aja kita sering kesiangan. Bagaimana kita bisa ingat membaca dzikir kalau hati lagi galau, resah, banyak masalah kehidupan sedangkan kondisi hati kita sangat parah penyakit kemalasannya atau bahkan sangat tipis kadar imannya bahkan terkadang tidak lagi percaya bahwa itu adalah obat penyembuh.  Hal ini sebagaimana kenyataan yg terkadang terjadi di sekitar kita ada seseorang yg diberi jamu atau ramuan terkadang tidak percaya akan jamu dan ramuan tersebut. Atau dia tidak mau karena pahit atau takut akan resiko pengobatan itu yg terkadang harus di suntik, di operasi dsb.
Kalau kita kaji lagi lebih jauh, jika dalam masalah obad badan ada aturan minumnya, bagaimana dengan Obat Hati ala Opick di atas. Berapa ayat atau surat atau juz yg harus kita baca sehingga sembuh? Atau bagaimana cara pembacaannya..? Sah kah atau berdampakkah jika kita membaca al-Quran, dzikir dan sholat malam namun kita tidak tahu Niat dan tata cara penyelenggaraan ibadah tsb dan tidak khusyu..? Sedangkan kita tahu jika obat salah ramuan atau salah dosis bahaya dampaknya bagi pasien itu sendiri. Bagaimana dengan obat untuk sakit hati tsb, berapa ayat, surat apa, berapa kali dzikir, berapa rokaat sholat malam dan di jam brp, kalau puasa pun hari apa..? iya masih banyak lagi pertanyaan yg membikin kita bertanya tentang obat hati ala kang Opik tsb.
Belum lagi kalau mau kita kaji lebih lanjut bahwa sebagaimana sakit badan yg kita terkadang harus cek lab, maka dalam hal penyakit hati ternyata kita juga harus bisa mengenali atau mencari hasil diagnosa akan penyakit hati kita. Apakah penyakit hati kita ini bisa diobati dengan obat yg bisa atau biasa kita minum atau kita ramu sendiri seperti dengan cara 4 hal di atas, yg mana kalau kita lihat dari empat obat hati di atas semuanya kita harus aktif mengobati atau meminum obat. Padahal kita tahu terkadang pasien itu makan aja nggak sanggup. Bagaimana dengan perihal penyakit hati…?
Di situlah ada obat hati yg paling mujarab yakni Berkumpul, bertemu dengan orang sholeh. Seakan akan jika kita bertemu dan berkumpl sama Beliau maka Beliau lah yg aktif mengobati. Kalau benar Beliau adalah orang sholeh maka segala hal tentang Beliau bisa menjadi obat bagi hati kita, kata-katanya, penampilan sikap dan perilakunya pun juga jadi penawar hati. Bahkan terkadang sekilas memandang ke wajahnya saja kita sudah mendapatkan obat dan tambahan iman. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Ghozali dalam kitab Ihyanya :
قال جعفر بن سليمان مهما فترت في العمل نظرت إلى محمد بن واسع وإقباله على الطاعة فيرجع إلي نشاطي في العبادة وفارقني الكسل وعملت عليه أسبوعا  [إحياء علوم الدين 2/ 184]
Berkata Imam Ja’far bin Sulaiman : “jika aku sedang mengalami futur (berhenti, putus atau malas) dalam beramal sholeh maka aku melihat ke Imam Muhammad bin Wasi’ dan bagaimana semangatnya Beliau menghadap sepenuhnya di dalam ketaatan sehingga aku akan kembali semangat beribadah dan kemalasan pun akan hilang dan aku bisa beramal untuk seminggu”. Belum lagi jika Beliau yg memandang kita dengan rasa penuh rahmat dan kasihan dan di hati Beliau berniat dan mendoakan tanpa sepengetahuan kita. Berapa banyak orang yg hatinya tadinya mati namun sebab dipandang oleh seorang wali dengan pandangan penuh rahmat maka Allah pun menghidupan hati orang tsb dan menyembuhkannya.  Itulah obat hati yg sekarang sudah susah dicari di pasaran. Semoga Allah mempertemukan kita dengan segenap orang orang sholeh yg bisa menjadi penyembuh hati dan pembimbing kita dunia akherat..
Terakhir … Saudaraku Sakit badan ujungnya sampai mati tapi sakit hati atau rohani akan terus kita bawa sampai di hari kiamat Nanti.. Semoga hati kita mendapatkan obat dan kesembuhan sebelum datang kematian amin…

Rabu, 09 Oktober 2013

TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 1

Posted by Unknown On 21.24 | No comments
Kajian Tafsir Hari ini senin 17 September 2012
TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 1
{أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ} أَلَمْ نفتح ونوسع 195/ب وَنُلَيِّنْ لَكَ قَلْبَكَ بِالْإِيمَانِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْعِلْمِ وَالْحِكْمَةِ. [تفسير البغوي - طيبة 8/ 463]
“Bukankah telah Kami lapangkan dadamu”
Dalam tafsir al-Baghowi dijelaskan bahwa : bukankah telah Kami buka, telah Kami luaskan dan telah Kami lembutkan hatimu dengan Iman, dengan Kenabian, dengan Ilmu dan dengan hikmah…?
komentar saya :
kelapangan dada sangat dibutuhkan di dalam proses dakwah sebab akan menghadapi berbagai macam orang, masalah dan sebagainya dan semua itu akan bisa dilaksanakan dan dihadapi dengan baik jika Sang Pedakwah mempunyai dada yg sangat lapang dan luas sehingga sanggup menghadapi apa saja dalam proses dakwah dan menyampaikan Risalah.
Bagi setiap manusia pun membutuhkan kelapangan dada. Dalam menghadapi Istri, anak, keluarga dan kerjaan serta kenyataan hidup sehari-hari, semua orang membutuhkan kelapangan dada. Dia harus lapang dada dalam menerima ketetapan dari Allah SWT. Lantas bagaimana agar kita bisa lapang dada..?
Dari sekilah penafsiran ulama di atas kita ketahui bahwa Rasulullah SAW dilapangkan dadanya dengan beberapa hal, yakni : 1. Dengan Iman, 2. Dengan Ilmu, 3. Dengan Kenabian, 4. Dengan Hikmah. Bahkan di sebagian kitab tafsir dijelaskan lagi bahwa Beliau dilapangkan dadanya sama malaikat dengan dibelah dadanya dan dikeluarkan dari hatinya kotoran Ghill dan hasad..(HR. riwayat imam Ahmad)
Dari sini maka yg bisa kita tiru dalam kehidupan kita sehari-hari agar kita selalu dan mendapatkan kelapangan dada adalah yang 3 hal, sedangkan kenabian dan dibelah dadanya dan dikeluarkan oleh malaikat itu jelas tidak mungkin sebab di kehidupan kita sepertinya belum ada rumah sakit yg menerima operasi bedah untuk menghilangkan rasa hasud, iri dan dengki serta penyakit hati yang lain yg menyebabkan orang dadanya sempit bin sumpek alias merasa keluh kesah…
Artinya tiga hal yg masih mungkin kita upayakan untuk menghilangkan kesumpekan dan kesempitan dada adalah iman, ilmu dan hikmah…yakni dengan kita mencari dan menjalankan sebab sebab yg bisa menambah iman, ilmu dan hikmah kepada kita..
Lebih dipersingkat lagi kita ikuti saran Opik tombo ati….lebih singkat lagi kita hadir di majelis Ilmu yg di sana pembimbingnya adalah orang soleh dan ahli istiqomah..Semoga Allah melapangkan hati kita dan membersihkannya dari berbagai penyakit hati, menyembuhkan dan mengisinya dengan cahaya iman, ilmu dan hikmah Allah SWT. Aminnnnn
Kajian Tafsir Hari ini Selasa 18 September 2012

TAFSIR SURAT Alam Nasyroh ayat 2 bagian ke 2
Lanjutan :
Kata Wadho’a di dalam bahasa arab bisa memiliki dua makna : meringankan dan membebankan. Jika kata wadho’a dipertemukan dengan huruf jar ‘alaa ( وضع على) maka artinya adalah membebankan-mebawakan. Sedangkan jika wadho’a dipertemukan dengan huruf jar ‘an ( وضع عن ) maka maknanya adalah meringankan-menurunkan.
Al-Wizru (الوزر) artinya beban yang berat. Dan di antara makna yang demikian tersebut diisyaratkan dalam ayat :
حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا “sampai peperangan itu meletakkan beban beratnya”. Dari makna ini pula diambil pengertian istilah al-waziir (الوزير – menteri) sehingga maknanya adalah orang yang menanggung beban berat dan tugas kesibukan pemimpinnya.
Sedangkan menurut pengertian syariat “al-wizru” (الوزر) artinya adalah dosa sebagaimana dalam hadis :
«وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»
“Barang siapa yang mempelopori suatu kebiasaan buruk maka dosanya akan dibebankan atasnya dan juga dosa orang yang ikut mengamalkanya sampai kelak hari kiamat.”
Jadi para ulama dalam menafsirkan lafadz “al-wizru” (الوزر) mempunyai beberapa pandangan di antaranya :
- Imam Al-muhasibi berkata : yakni beratnya dosa yang belum dimaafkan oleh Allah SWT;
- Bermakna beratnya keprihatinan Beliau atas apa yang terjadi terhadap ummatnya sedangkan Beliau tidak mampu merubahnya padahal Beliau adalah orang yang sangat sayang terhadap ummatnya;
- Bermakna : yakni Kami ringankan dari mu berbagai macam beratnya tugas kenabian dan dakwah sehingga tidak memberatkan Beliau;
- Bermakna : di awal Beliau menerima wahyu terasa sangat berat sampai Beliau merasa takut jika terjadi sesuatu terhadap kesadaran akalnya sampai Beliau hendak menjerumuskan dirinya dari atas gunung. Lantas menampaklah malaikat jibril dalam rangka memantapkan hati Beliau dan mengukuhkan bahwa Beliau memang adalah benar seorang Nabi sehingga setelah itu Beliau merasa lebih ringan dan yakin di dalam menerima dan menjalankan wahyu dari Allah SWT;
- Imam Abu Hayan mengatakan : itu adalah ungkapan sindiran akan kemaksuman (keterjagaan) Rasulullah SAW dari segala dosa dan segala cela;
- Jadi yang dimaksudkan dalam ayat ini dengan wizru bukan bermakna dosa, kemasiatan atau kesalahan sebab para Rasul itu semuanya Ma’shum (terjaga) dari melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi yang dimakasudkan di sini adalah perbuatan Rasulullah yang timbul dari hasil ijtihad Beliau yang nilainya tidak sampai ke derajat perbuatan yang paling utama yakni perbuatan yang ‘khilaful aula’(sehingga turun ayat yang menegur Beliau-pen) . Contoh hasil ijtiihad Beliau yang khilaful Aula adalah bagaimana Beliau memberi izin orang munafiq untuk tidak ikut di perang Tabuk (Turun teguran dari Allah surat At-Taubah ayat 43), bagaimana Beliau mengambil tebusan atas tawanan perang Badar (turun teguran dari Allah di surat al-Anfal ayat 67-68), bagaimana Beliau lebih mementingkan pembesar Qurasy dan berpaling muka dari orang buta (turun teguran dari Allah SWT di surat Abasa) dsb.
Dari sini kemudian dikembangankan tentang pembahasan kema’shuman para Nabi wa bil Khusus Nabi Kita Muhammad SAW. Maka dalam hal ini ada beberapa point :
- Kema’shuman Rasulullah SAW sebelum jadi Nabi dibagi dua pembahasan; 1. Dari dosa besar, 2. Dari dosa kecil.
- Kema’shuman Rasulullah SAW setelah menjadi Nabi
Adapun sebelum kenabian maka wajib bagi kita meyakini secara pasti bahwa Rasulullah SAW Ma’shum (terjaga) dari dosa Besar. Sebab Beliau sejak kecil dalam keadaan dipersiapkan oleh SWT untuk menjadi seorang Nabi. Dan Dada Beliau telah dibelah di masa Beliau menyusui dan dikeluarkan dari dadanya akan bagian syetan. Kemudian jika memang benar pernah terjadi dari Beliau suatu dosa besar maka mereka orang kafir akan menfonis Beliau atas perbuatan dosa besar masa lalunya tersebut di saat Beliau menawarkan dan mendakwahkan ajarannya kepada mereka, sebagaimana kita terkadang mencemooh seorang ustadz yang mempunyai masa lalu kelam dengan perkataan “ahh kamu dulu juga perbuatannya tidak benar” dsb. Dan yang demikian ini tidak pernah disebutkan sama sekali dan tidak ada dalam sejarah Beliau.
Tinggallah sekarang permasalah dosa kecil sebelum masa kenabian.
Berlanjut yaaa….harap sabar…!!!!
Assalamualaikum Wr Wb
BENARKAH KITA BELUM DIBERI HIDAYAH atau KITA BELUM MAU MENCARI HIDAYAH…??
Semoga Keselamatan, Rahmat dan hidayah dari Allah tercurah bagi kita di pagi hari ini…
Yakin 1000% tiap hari Allah melimpahkan dan mencurahkan Rahmat tsb ke bumi..tapi sebagaimana turunnya hujan terkadang Allah menurunkan di tempat tertentu dan tidak mencurahkan di tempat yg lain karena hikmah yg hanya Allah lah yg mengetahuinya…
Artinya wahai segenap saudaraku seiman yg dirahmati Allah…
Kalau ingin mendapatkan rahmat dan hidayah kita juga harus melihat tanda2 alam, di mana ada mendung dan di mana ada turun hujan..kalau kita tetap bertahan di dalam rumah dan di kampung kita yg tidak terkena dan jauh dari turunnya maka jangan lah beralasan “Allah belum memberi hidayah dan rahmat kpd kita”..tapi kitalah yg tidak mau mencari dan berusaha mendapatkan curahan hujan tsb di daerah yg Allah tetapkan turunnya hujan. Justru perkataan kita yg demikian itu, menunggu dapat hidayah dan taufiq tanpa usaha itu adalah bentuk kemalasan dan penentangan kita terhadap Allah swt. Kenapa jika masalah Rizki kita ngotot mengatakan harus berusaha dan mencari tapi jika hidayah dan rahmat Allah kita hanya menanti?? Kalau kita diajak ke pengajian atau ke majelis kita beralasan “yaah gimana yaa..pingin Sih…mungkin saya belum dapat hidayah atau taufiq”. Padahal Rizki, hidayah dan Rahmat dan taufiq semuanya adalah dari Allah SWT..kenapa tidak semuanya saja kita nantikan datang sendiri dengan duduk di rumah termasuk masalah Rizki yg jelas sudah ditanggung dan dijamin sama Allah SWT tidak usah usaha dan bekerja mencari Rizki ke pasar, kantor dan sebagainya..Silahkan anda duduk saja di rumah..tentu orang lain akan mengatakan kenapa kamu tidak mencari Rizki, knp kamu malas bekerja..?. Itulah bentuk penentangan kita kpd Allah yg memberi rizki kpd kita sejak kita di kandung ibu belum bisa berusaha apa apa. Sudah jelas dijamin dalam ayat tapi kita tidak percara malah terus meminta dan mencarinya. Tapi terhadap masalah akherat, pahala, surga neraka yg kita tidak mempunyai jaminan yg jelas dari Allah swt justru kita merasa percaya bahwa Allah maha Merahmati dan Mengampuni padahal setiap hari kita lebih sering mencari murka Allah dan Azab Allah dari pada mencari rahmat, hidayah dan ampunan dari Allah swt. Apakah benar memang Allah belum meberi hidayah kpd kita atau itu sekedar alasan belaka…?
Begitu juga bagi setiap saudara-saudara yg duduk di rumah tidak berusaha dan mencari di mana Allah mencurahkan dan menurunkan Hidayah dan RahmatNya, tidak mau hadir ke majelis, tidak mau bertanya kpd Ulama, tidak mau membaca dan mengkaji Al-Quran dan kitab para Ulama, tidak mau mendengarkan kajian dan ceramah para pedakwah maka kami katakan…: kenapa kamu malas mencari hidayah, mengapa kamu tidak berusaha mendapatkan Rahmat..? Bukan kah Allah SWT sudah  berfirman
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)
  Dan ikutilah hal terbaik yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian sebelum datang kepada kalian suatu azab yg tiba-tiba sedangkan kalian tidak merasa (55) (maka segeralah sebelum datangnya azab itu sebelum ) seorang akan berkata “ohh betapa menyesalnya atas segala yg telah aku teledorkan dalam hal yg berkaitan dengan ketaatan kpd Allah swt dan sungguh dulu aku termasuk orang-orang yg melecehkan/meremehkan (akan agama Allah) (56) atau seseorang berkata (mencari-cari alasan) “andai kata saya dulu diberi hidayah oleh Allah pasti aku akan termasuk orang-orang yg bertaqwa” (57) atau seseorang akan berkata di saat dia melihat azab Allah “andai kata ada kesempatan kembali ke dunia maka saya akan menjadi orang sholeh (58) (dijawab oleh Allah SWT) tidak demikian sungguh telah datang kepada mu akan ayat-ayat KU (ajaranKu, para RasulKu, para PedakwahKu dst) dan kamu mendustakannya dan kamu merasa sombong dan kamu termasuk orang yg mengingkari (tidak mau ngaji, tidak mau mendengar dst)

Dan Kami pun di Majelis Darul Futuh mengatakan…benar Ya Allah ..kami sudah berusaha mengajak, menyediakan program dan sarana dakwah baik tahunan, bulanan, mingguan dan setiap hari…Status FB pun kami udah Update hampir setiap hari..tapi begitulah Ya Allah Engkau lebih mengetahui kabar apa yg mereka pilih, berita apa yg mereka baca dan mereka dengarkan…dan akhirnya kami pun hanya bisa mengatakan :
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون
“Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaum ku, kepada teman-2 Fbku dan semua yg akan berteman dengan ku..sesungguhnya mereka belum mengetahui”
فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم
“kalau jika mereka berpaling / tidak mau maka katakanlah – cukuplah bagiku Allah SWT yg tidak ada tuhan selain Dia dan kepadaNya lah aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan Pemilik Arsy yg Agung”

Ya Allah Arys yg agung dan sangat besar aja bisa Engkau urusin dan Engkau angkat..masak sih repot dan susah kalau memberi hidayah kpd mereka yg berpaling…???
Mari kita menyodorkan diri kita di tempat  dan  Allah menurunkan hidayah dan rahmatNya…
Simak dan ikutilah selalu situs FB dan situs MT Darul Futuh. Semoga semakin bisa menambah hidayah dan keberkahan dalam hidup kita semua…
semoga usaha kita diiringi hidayah, rahmat dan Keridhoan dari Allah SWT…
Ya Allah hanya ini yg kami mampu..terima dan Qobulkanlah…

Like Fanspage

Radio ASWAJA