• Maulid Akbar 1434 H (Program Dakwah Tahunan)

    Peringatan Maulid Nabi SAW adalah Program untuk ummat dari para Ulama dan Pemikir Islam dalam rangka mengikat dan menyambungkan kembali seluruh lapisan Ummat dengan Nabiyul Ummat, Muhammad SAW.

  • Touring Jamai (TURJA)

    Alhamdulillah Program Dakwah Bulanan MT Darul Futuh yg dikemas dalam bentuk Touring Jamai (TURJA) bisa dilaksanakan dg lancar dan dihadiri oleh sekitar 400org Jamaah. Namun Keberhasilan dakwah bukan dari banyaknya yg hadir tapi Sejauh mana pengaruh, dampak serta yg paling penting pengaruhnya serta Tingkat Kesolidan, kekompakan serta loyalitas TEAM Dakwah itu sendiri di dalam berkorban biamwalikum wa Anfusikum demi tegaknya Syariat Allah SWT dan RasulNya. Semoga Segala Amal dari semua pihak diterima oleh Allah SWT dan Rasul Nya.. Amin

  • Mabit Akhir Sanah -MASA 4- (Program Dakwah Tahunan)

    This is slide 3 description. This Blogger Template is Designed By NewBloggerThemes.com. Go to Edit HTML and find this content. Replace it your own description. For More Blogger Templates, please visit NewBloggerThemes.com. If you need a premium blogger template or customize this template then contact me[...]

  • ISRA' MI'RAJ Nabi Muhammad SAW

    Kebanyakan Orang membuat acara Isro Miroj tapi sebagaimana kita tahu kalau roti itu dari tepung telur mentega gula dll. maka tidak semua yg tahu bisa membuat roti sebagaimana tidak semua Isro Miroj bisa dinikmati dan menghasilkan berkah karena masalah cara

  • Qurban di MTDF 1434 H

    Setiap tahun Ribuan hewan di potong..? kmn hasil pahalanya yg hitungannya sebanyak jumlah bulu hewan Qurbannya..? Salah niatkah atau hewan kurbannya blm memenuhi syarat...?

  • Shilah Ukhuwah

    Dengan Saling mengunjungi kita menyirami pohon Ukhuwah Fillah dan semoga kita memetik buahnya dalam bentuk Ta'awun alal birri Wa Taqwa

Selasa, 19 November 2013

Bagian III Maulid dan Ceramah Hikmah Tahun baru
Bismillahirrahmanirrahim
Shollu’alan Nabi Muhammad, Allahumma sholli wa sallim wa barik ‘alaih.
Sahabat Darul Futuh…semoga kita semua senantiasa diberikan kefutuhan oleh Allah SWT. Aamiin.
Alhamdulillah, kegiatan MASA 1435 H telah sampai pada kegiatan ketiga, Setelah rehat 2 jam. kegiatan dilanjutkan dengan pembacan Maulid Shimtud Duror yang dijadwalkan akan dimulai tepat jam 9 malam. Sebenarnya sih kalau kita mengintip ke dapur umum ternyata para panitia tidak rehat sm sekali. Mereka lagi sibuk membuat arang untuk membakar daging yg sudah disiapkan. Alhamdulillah pada Masa ke 5 ini ada jamaah kita yg aqiqah dan disalurkan untuk acara ini. Semoga yg punya niat diterima sm Allah swt dan dengan begitu keberkahannya lebih bisa diharapkan dan dipastikan insya Allah. Lumayan lho di daerah yg cukup dingin panitia Masa menyiapkan menu santap malamnya cukup menggiurkan, yakni Nasi Mandi dan Daging bakar … waah baunya nyampe ga sahabat DF sekalian…?? (sorry yaa sengaja, biar pada kepingin jadi tahun depan insyAllah mau ikutan…)
Tepat jam 9 malam suara speaker mulai terdengar melantunkan Sya’ir Nadhom Aqidatul Awam. Sebagaimana biasa hal itu merupakan alarm bahwa sebentar lagi acara akan dimulai. Di samping itu faedahnya agar sambil menunggu kita bisa menjaga lisan dan ikutan membaca dan dapat pahala. Di sudut lain, Ibu ibu udah pada siap dengan mukenanya berkumpul di tenda.  sedanngkan anak-anak dan bapak juga sebagian besar sudah berkumpul. Para Kasepuhan MT Darul Futuh pun juga sudah ambil posisi di barisan depan dan Ust kita pun juga tidak lama kemudian hadir di tenda untuk memimpin acara.
Sahabat Darul Futuh…Sebagaimana dijelaskan dalam laporan sebelumnya, bahwa di setiap acara pasti dimulai dengan pembacaan surat Al-Fatihah. Gmn sahabat ku sekalian..? udah menemukan jawabannya lom..? Kalau kita rutin mengikuti kajian mingguan atau harian di MT Darul Futuh insyaAllah pasti menemukan deh jawabannya. Ok deh kali ini karena sahabat sudah bersabar mengikuti liputan Masa 5 sampai di bagian 3 ini maka kami berikan jawabannya.
Di kutip oleh Al Imam Alawy bin Ahmad bin Hasan Bin Al-Imam Al-Quthub Abdullah bin Alawy al-haddad dalam kitab Syarah Rotibul haddad halaman 138, Beliau meriwayatkan dari Imam Ibnu Dhuroisy : dari Abi Qilabah Beliau merofa’kannya sampai kepada Rasulullah SAW : “siapa yg menghadiri pembacaan surat Al-Fatihah di saat dijadikan pembukaan maka dia seperti menghadiri suatu kemenangan di jalan Allah, dan siapa yg menghadiri di saat dijadikan penutupan maka seperti orang yg menghadiri rampasan perang di saat dibagi-bagikan.” Naah sahabat Darul Futuh sekalian..Jadi jangan lupa lho yaa setiap memulai suatu acara yg positif awali dan tutup dengan pembacaan surat Al-Fatihah. Ok
Naah Sahabat Darul Futuh, setelah al-fatihah dibaca, sebagaimana biasanya dilanjut dengan pembacaan maulid. Dari awal fasal dan ditambah 2 qosidah di tengah maulid sampai malal Qiyam kurang lebih memakan waktu 1 jam. Para jamaah sangat khidmat mengikuti bacaan sholawat yg diiringi oleh hadroh dari anak-anak didik ust Irfan. Bahkan di saat berdiri “YA Nabi Salam Alaika”, tidak sedikit dari jamaah yg terharu dan menitikkan air mata. Semoga dicatat sebagai air mata kerinduan kpd Baginda Nabi Muhammad SAW. Iyaa Beliau dulu susah payah menanjak ke gua Stur dengan berjinjit sampai kakinya berdarah, kita di tahun baru hijriyah ini jarang yg mengenang dan menghargai perjuangan Beliau. Bahkan kemungkinan Besar banyak di antara kita tidak tahu bagaimana dan ada pelajaran apa dibalik Hijrah Nabi Agung kita Muhammad SAW.
Bada maulid, kegiatan dilanjutkan dengan kajian mengenai makna hijrah Nabi kita Muhammad SAW. Sebelum kita bisa mempelajari makna hijrah, kita harus tahu dulu cerita bagaimana Nabi dan para Sahabat melakukan hijrah. Rasulullah SAW dan juga para sahabat pergi hijrah sejauh kurang lebih 500 km yakni dari kota Mekkah ke Madinah. Selama di Mekkah yakni sebelum Beliau hijrah, Rasul SAW selalu menanti saat-saat waktunya naik haji. Ngapain? Karena saat-saat itu adalah kondisi orang-orang pada rame kumpul di pasar dan lain sebagainya. Rasul juga pergi ke pasar, tapi bukan buat jualan melainkan untuk menjalankan tugas dari Allah SWT yakni menawarkan Islam. Rasul SAW menawarkan Islam itu bukannya enak, adem ayem, lancar jaya gitu aja, tapi ya dicaci maki, dapet lemparan, dihalang-halangin. Nah dari situlah kalau  kita analogkan dengan Bola, bola itu kalo digencet terus menerus lama kelamaan akan meletus. Dan itu suaranya pasti kedengeran kemana-mana. Nah, sama kayak Rasul SAW, makin digencet, dihalangin dan diteken, itu makin kedengar kabar tentang Rasul SAW kemana-mana. Dihubungin dengan kegiatan MASA ini, maka kita lagi nyari keberkahan dari hijrahnya Rasul SAW. Walaupun Rasul SAW digencet, diabisin, tapi akhirnya tetep Allah menghendaki lain. Begitu juga dengan kita, walau pun kita hanya bisa meniru hijrah dengan MASA ini dan dengan segala keterbatasan dakwah yg ada, semoga Allah menerima dan memberkatinya dan menghendaki kita hal-hal yang baik lewat kegiatan MASA ini.
Sahabat Darul Futuh sekalian….Pelajaran terbesar yang dapat diambil dari Hijrahnya Rasul SAW ini adalah bagaimana kita lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya ketimbangan dengan keluarga, dunia dan seisinya. Hal ini sebagaimana yg dilakukan oleh para sahabat Muhajirin RA. Bayangin sahabat sahabat pergi hijrah itu udah enggak mikirin lagi rumahnya, istrinya. Bahkan di saat mereka Fathu Makkah, di saat mereka berada di sana tidak satu pun di antara para Sahabat yg menengok rumahnya yg dulu dia tinggalkan apa lagi bermalam di sana. Iya karena mereka sudah yakin segala yg mereka serahkan dan ditinggalkan karena Allah maka akan mendapatkan balasannya di sisi Allah. Maka dari itu sahabat Darul Futuh sekalian, lewat kegiatan MASA ini kita berharap bisa lebih mendapatkan gambaran dan ikut ngerasain bagaimana bentuk nyata keimanan. Dalam waktu sehari-semalam kita coba ninggalin rutinitas kita yang biasa, ninggalin urusan, ninggalin rumah, dll. Seseorang yang hijrah, yang bisa dakwah, itu baru bisa melakukan Hijrah dan Dakwah benar kalo dia sudah benar-benar mengerti harga dunia dan iman. Dulu Sahabt meninggalkan dunia dan menganggapnya remeh demi mendapat dan meraih iman bagaimana dengan kita sekarang..?? apakah jaman sekrang cara mendapatkan iman sudah berubah yakni jika mendapatkan dunia kita baru beriman..? atau “Iimaanuhum fii Amplopihim” (keimanan mereka ada pada amplop mereka)..?
Sahabat Darul Futuh yg budiman….Dalam kegiatan ke 3 Maulid dan Hikmah Hijrah di MASA kali ini Guru kita Ust Ahmad Said juga mengkaji isyarah-isyarah dari Rasul yang mengingatkan masalah tahun baru dan pergantian tahun yg tertuang dalam 3 riwayat Hadist.
  1. عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ عَامٌ إِلَّا وَهُوَ شَرٌّ مِنَ [ص:280] الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ. أَمَا إِنِّي لَسْتُ أَعْنِي عَامًا أَخْصَبَ مِنْ عَامٍ، وَلَا أَمِيرًا خَيْرًا مِنْ أَمِيرٍ، وَلَكِنْ عُلَمَاؤُكُمْ وَخِيَارُكُمْ وَفُقَهَاؤُكُمْ يَذْهَبُونَ، ثُمَّ لَا تَجِدُونَ مِنْهُمْ خَلَفًا، وَيَجِيءُ قَوْمٌ يَقِيسُونَ الْأُمُورَ بِرَأْيِهِمْ» [سنن الدارمي 1/ 279]
Artinya : Dari Sy Abdullah dia berkata :  “Tidak datang suatu tahun yang baru kepada kalian, kecuali tahun itu lebih parah atau lebih jelek dari tahun sebelumnya. Ingatlah bahwa yg aku maksudkan lebih parah di sini bukan dari sisi satu tahun lebih subur dari tahun sebelumnya atau dari sisi pemerintahan yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Akan teyapi dari segi ulama, orang-orang yang baik, dan orang yang paham agama yg ada di antara kalian pada meninggal. Hingga Nanti, (di  saat manusia  kehilangan para ulama, orang-orang faqih (ahli fiqih)) mereka enggak  menemukan penggantinya. Akhirnya datang suatu kaum yang mereka menakar segala sesuatu menurut pendapat mereka sendiri.” (HR Ad-Darimi).
Ust Kita berkomentar : Walau pun hadis ini kata para ulama dhoif tapi yg dhoif itu sanadnya, dan justru kejadian di alam nyata yg memperkuat hadis ini. Dari situlah para ulama masih tetap mencatat dan mengumpulkan hadis-hadis yg dhoif karena sabda Rasulullah tidak pernah Dhoif. Yg dhoif itu kitanya. Dan di zaman kita sekrang banyak terbukti di satu desa bahkan satu kota kesulitan mencari sosok ulama, ahli fiqih dst. Bahkan tidak jarang di masjid-masjid mencari orang yg jadi imam saja sudah dan terpaksa dorong-dorongan. Dan terbukti juga di kebanyakan rapat dan musyawarah yg dilakukan di tengah masyarakat tidak lagi mengambil dasar pemikiran dari Al-Quran atau hadis atau tidak lagi melibatkan ulama. Tapi setiap orang yg merasa punya title dan kedudukan berebut adu pendapat dan mengatakan “menurut hemat saya” “menurut pendapat saya”. Subhanallah Maha Benar Allah dan RasulNya. Emangnya siapakah ‘saya’ di sini..? apakah ahli quran, atau ahli hadis, atau ahli hadis..? terkadang ahli kehutanan dan kehewanan saja sudah berani berbicara masalah agama.
  1. عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ، قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنَ الحَجَّاجِ، فَقَالَ: «مَا مِنْ عَامٍ إِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ»، سَمِعْتُ هَذَا مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   [قوت المغتذي على جامع الترمذي 2/ 529]
Artinya  : Dari Zubair bin Adi dia berkata : Kami datang kpd Sy Anas bin Malik dan kami mengeluhkan apa yg kami hadapi dari al-Hajjaj. Maka Beliau (Anas) berkata : “Tidak ada tahun yang datang kecuali tahun yg setelah itu lebih parah dari sebelumnya sampai kalian berjumpa dengan Allah  (HR Tirmizi)
Guru kita berkomentar : dari hadis ini kita ketahui bahwa terjadinya yg demikian ini bukan sekali dua kali saja tapi sampai kelak di akhir zaman di saat waktu perjumpaan kita dengan Allah swt (qiamat).
3- عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: ” لَيْسَ عَامٌ إِلَّا وَالَّذِي بَعْدَهُ شَرٌ مِنْهُ , لَا أَقُولُ: عَامٌ أَمْطَرُ مِنْ عَامٍ , وَلَا عَامٌ أَخْصَبُ مِنْ عَامٍ , وَلَا أَمِيرٌ خَيْرٌ مِنْ أَمِيرٍ , لَكِنْ ذَهَابُ عُلَمَائِكُمْ وَخِيَارِكُمْ , ثُمَّ يَحْدُثُ أَقْوَامٌ يَقِيسُونَ الْأُمُورَ بآرَائِهِمْ؛ فَيُهْدَمُ الْإِسْلَامُ وَيُثْلَمُ ” [البدع لابن وضاح 2/ 70]
Artinya : Dari Masruq dia berkata : Abdullah berkata : “Tidak datang suatu tahun kecuali setelah itu tambah buruk dari tahun sebelumnya. Bukan tentang satu tahun lebih banyak hujannya dari tahun yg lain, bukan tentang urusan satu tahu lebih subur dari tahun yg lain, juga bukan tentang pemerintahan lebih baik dari pemerintah yg lain, tetapi perginya Ulama-ulama dan orang-orang baik dari kalian. Lalu muncul suatu generasi yg mana mereka mengkiaskan masalah (menyelesaikan) dengan pendapat mereka sendiri maka Islam tambah hancur dan tambah gompel” (HR Ibnu Wuddhoh)
Dari tiga hadist di atas Guru kita mengambil kesimpulan :
  1. Kalau tahun di kabarkan tambah parah dan tambah buruk itu bukan berarti kita harus menyerah begitu saja. Tapi maksudnya seperti kalau besok cuaca tambah buruk artinya kita harus lebih persiapan peralatan dan antisipasinya lebih serius dalam menghadapi cuaca. Praktek realnya kita harus siap Ilmu, amal dan Dakwah yg lebih kuat lagi dalam rangka menghadapi keburukan yg terus bertambah.
  2. Tolak ukur baik tidak nya adalah adanya tiga hal : ulama, orang ahli kebaikan dan para ahli fiqih. Dari sini kalau kita ingin lebih baik di tahun yg akan, maka arah pembangunan kita harus memperbanyak 3 komponen kebaikan tsb. Bagaimana caranya membangun pendidikan yg mencetak dan memperbanyak ulama, ahli kebaikan dan para ahli fiqih. Bukan malah sebaliknya memperbanyak PaUd, SD, SMP, SMU, SMK dan Universitas. Karena hal tersebut menurut Rasul SAW tidak akan menambah dan merubah isi tahun lebih baik, tapi justru karena di Pesantren yg seharusnya mencetak para ulama dirubah menjadi pesantren Modern yg hanya bisa mencetak PNS Korup, pegawai dan Buruh itulah yg ikut menambah keburukan di tengah ummat. Perbanyak Majelis, Perbanyak Pesantren Salaf yg murni mencetak ulama, kyai dan ustadz2 pejuang. Programkan dari anak kita, ponakan kita, dalam satu keluarga tahun ini berapa yg akan dicetak dididik jadi calon ulama, kyai, atau ustadz..
  3. Dalam setipa urusan masyarakat libatkan peran ulama, minta pendapatnya dan kurangi menurut hemat saya dan menurut pendapat saya akan tetapi tanya kpd para kyai dan ulama, bagaimanakah ayatnyam hadisnya dan qoul/pendapat para ulamanya, keterangan di kitabnya bagaimana dari situ insyaAllah akan menambah kebaikan di tengah masyarakat.
  4. عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَسْلَمَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي أَيَّامِ الدَّهْرِ نَفَحَاتٌ، فَتَعَرَّضُوا لَهَا، لَعَلَّ أَحَدَكُمْ أَنْ تُصِيبَهُ نَفْحَةٌ فَلَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا [المعجم الأوسط 6/ 222]
Tapi juga di sisi lain, Imam Attarani meriwayatkan bahwa “Sesungguhnya Allah SWT Tuhan kalian di dalam hari hari di tahun kalian memiliki suatu anugerah yg dilimpahkan; maka sodorkanlah diri kalian untuk mendapatkan hal tsb semoga salah seorang akan mendapatkan salah satu dari anugerah tsb sehingga tidak celaka selama-lamanya”…dalam riwayat yg lain :  “Mintalah kepada Allah untuk nutupin Aurat kalian. Minta juga moga-moga dikasi aman dari hal-hal yang kita takuti”.
Walaupun ada isyarah bahwa tiap dateng tahun itu lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelum, hal yang bisa kita lakukan adalah melakukan persiapan untuk hal-hal tersebut. Melalui program MASA ini diharapkan kita bisa terbangun dan sadar dan kemudian bisa merencanakan hal-hal untuk menghadapi hal-hal yang mungkin bakal terjadi di tahun baru ini.
Ya Allah dengan Program Masa di akhri dan awal tahun kami menyodorkan diri kami dan keluarga kami dan segenap orang yg kami kenal dan kami cintai…anugerahilah kami semua dengan suatu anugerah yg menyebabkan kami tidak akan sengsara lagi selama lamanya, amankanlah segala apa yg kami takutkan di masa depan dan ampuni dan tutupi aurat kami..amin ya robbal alamin.

Kamis, 14 November 2013

Resensi Kajian Sirah Nabawi
Musholla Nurul Iman, 17 Oktober 2013

Semoga Allah SWT memberkahi kajian kita dengan suatu keberkahan yang bisa menjadi sebab kebahagiaan  dan keselamatan kita. InsyaAllah. Aamiin
Seperti yang sudah kita pahami dan ketahui, di setiap pertemuan ba’da Qiroah Maulid, Salawat, Qasa’id dan sebagainya, kita lanjutkan dengan pengkajian Sirah Nabawiyah atau Biografi Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW. Jika seseorang mengakui dan mengikut kepada Rasul, maka hal tersebut tidak mungkin sempurna tanpa mengenal Rasul itu sendiri. Dari situ, perlu kita kaji untuk menyempurnakan diri kita agar senantiasa dapat mengikuti Rasul dalam segala hal dan jangan sampai kita mengikuti orang-orang, tokoh-tokoh maupun pihak tertentu yang justru mereka itu bakal dimurkai Allah swt. Harapan yang lain, semoga kita makin kenal sama Rasul dan paham tentang bagaimana Beliau menanggung dan mengemban risalah yang besar dan juga Al-Quran yang juga merupakan mukjizat dari Nabi Muhammad SAW.
Pertemuan yang lalu kajian sirah kita sudah sampai pada Bab Perang Badar tahun 2 Hijriyah pada kisah awal terbunuhnya Umaiyah bin Kholaf. Ada beberapa hal dalam kisah Umaiyah yang dapat kita pelajari yakni tentang bagaimana sikap Umaiyah Bin Kholaf yang tiba-tiba berubah setelah mendengar kabar dari temannya, yakni Saad bin Mu’adz bahwa ia akan terbunuh. Kemudian Umaiyah bersumpah bahwa Dia tidak bakal keluar dari Mekkah. Allah SWT sendiri telah menetapkan seseorang misal si A bakal kena adzab, mati kufur, bakal meninggal, dijadikan tawanan perang dan sebagainya. Itu sebenarnya sudah ada dalam Ilmu Allah SWT. Akan tetapi, hal-hal yang perlu dipahami bahwa jika kita lihat di kisah terbunuhnya Umaiyah Bin Kholaf ini, ketika Ia sudah tersinggung karena diejek oleh temannya, saat itu Umaiyah langsung tidak memikirkan lagi apa akibat dari tersinggungnya, apakah  nanti bakal mati atau tidak saat dia diejek seperti ibu-ibu oleh temannya si Uqbah Bin Abi Mu’idz. Jadi dari sepintas kisah tadi bisa diambil pelajaran bahwa jika seseorang ingin membangkitkan sisi keberanian seseorang itu bisa dilakukan dengan mengejek atau menyinggung seseorang tersebut dengan hal-hal yang berkaitan dengan kewanitaan seperti “Bencong lu, kayak ibu-ibu” dll.  Siasat seperti inilah yg terkadang dipake untuk mengadu domba antar ummat.
Maka seketika itu juga Umaiyah pulang ke rumah dan bilang ke istrinya untuk menyiapkan keperluan perang. Kemudian istri Umaiyah mengingatkan apakah Ia lupa dengan yang dikatakan oleh saudaranya yang dari Yastrib, yakni Saad Bin Mu’adz, bahwa Ia akan terbunuh.? Umaiyah Bin Kholaf pun berkata bahwa Dia tidak ingin mengikuti mereka dan juga ingat apa yang dikatakan Saad Bin Mu’adz. Umaiyah hanya bermaksud untuk ikut mereka dalam jarak dekat saja kemudian pulang lagi ke Mekkah yakni sekedar berpura pura yang penting terhindar dari ejekan si Uqbah. Ketika teman-temannya mengetahui bahwa Umaiyah ini ada kemungkinan untuk kabur, maka diikatlah unta yang dikendarai Umaiyah Bin Kholaf hingga akhirnya Dia terbawa hingga medan Perang Badar.
Dari sekilas kisah Umaiyah di atas ada beberapa pelajaran dan hal yg penting untuk kita perhatikan yakni di antaranya:
1-      Umaiyah walaupun kafir dan musyrik tetapi jika ada sabda / perkataan Rasulullah yg dia dengan dari orang maka dia sepontan percaya begitu juga istrinya. Bagaimana dengan kita yg mengaku beriman..? Malah  jika ada hadis dikaji dan dibacakan kita seperti orang yg tidak percaya dan tidak beriman.  Buktinya tidak ada perubahan dan praktek dari Hadis yg kita dengar tersebut. Berbeda dengan  Si Kafir Umaiyah yg spontan bereaksi dan bersumpah tidak akan keluar Mekkah. Inilah pengaruh dari kepercayaan dan keyakinan di dalam hati yakni adanya aksi dan reaksi. Kalau kita beriman kepada ayat dan hadis maka apakah aksi dan reaksi kita…?
2-      Umaiyah sudah ditetapkan mati di perang Badar oleh Allah walau pun dia sudah tahu dan berusaha tidak keluar dari kota Mekkah bahkan bersumpah tapi pengetahuan dan usahanya itu tidak bisa menghindarkan dirinya dari ketetapan Allah SWT.  Walaupun dia licik hendak pulang kembali ke Mekkah tapi Allah tetap tidak terkalahkan rencanaNya sehingga Allah lah yg memberi ide dan membuat teman Umaiyah mengikat ontanya sehingga Dia tidak bisa pulang dan sampai lah dia di perang Badar dan terbunuh.
Diriwayatkan dalam Hadits Iman Buchori bahwa Umaiyah juga berteman akrab dengan Sayyidina  Abdurrahman Bin Auf RA. Sy Abdurrahman RA ini termasuk dalam 10 Sahabat Besar yang dikabarkan masuk Surga pada saat hidupnya oleh Rasul SAW. Namun sekarang hampir semua orang yang ingin masuk Surga tapi tidak tahu 10 bintang Surga. Kalau seorang pecinta bola, tidak kenal sama pemainnya, misalnya pecinta persikabo tapi dia tidak tau siapa top scorer persikabo, bisa kah orang tersebut dibilang sebagai penggemar persikabo? Tentu tidak, karena dia tidak kenal. Sama seperti jika kita kepingin masuk Surga tapi tidak kenal bintang Surga maka bisa-bisa dipertanyakan keinginan kita masuk surga itu benar atau tidak. Para Ulama sudah menjelaskan dalam Kitab Sarah Nailul Raja’ jg di kitab2 lain, disebutkan di sana  setidaknya kita mengenal 4 Bintang Surga (Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali RA) , Nah sekarang ditambah Sayyidina Aburahman bin Auf Bintang Surga yg kita kenal menjadi 5 orang. Jangan Sampai seperti orang Syiah yg suka melaknat sahabat yg justru mereka itu adalah sebenarnya Bintang penduduk surga. Mau masuk ke surga mana orang Syiah yg demikian itu…?
Iman Buchori mengatakan bahwa Sayyidina Abdurrahman Bin Auf RA ini berteman dengan Umaiyah Bin Kholaf. Dulu, nama Beliau bukan Abdurrahman tetapi Abdu Amer. Kemudian ketika masuk Islam langsung berganti nama. Nah masalah ganti nama ini juga menunjukkan keseriusan sesorang dalam masuk Islam dan memeluk ajaran Islam. Kalo kita sekarang ini agamanya sih memang Islam, tapi nama kita terkadang masih berbau-bau jawa, sunda, adat dll karena kita masih menyayangi sifat kedaerahan dan adat istiadat yg jauh dari warna dan nuansa Islam. Hal ini berbeda dengan para Sahabat Rasulullah SAW. Para Sahabat dulu ketika mereka ingin meninggalkan kejahiliyyahannya maka di saat mereka masuk Islam langsung mengganti nama Jahailiyahnya yg walaupun itu dari orang tuanya yakni yg tidak ada nuansa Islaminya. Hal itu termasuk di antara bentuk keseriusan sahabat dan juga Sunnah Rasul saw. Rasul saw jika melihat ada sahabat yang namanya tidak bener, langsung diganti oleh Beliau . Banyak Sahabat yang namanya diganti kemudian juga diberi gelar. Kalau gelar nama sudah diberikan Rasul, maka para sahabat pada merasa senang. Dan yg masih berkaitan dengan nama juga, bahwa dulu Kakeknya Rasul punya cita-cita terhadap cucunya. Dari situlah kenapa kok Rasul saw dikasih nama Muhammad saw oleh kakeknya? Ini Karena Mbahnya punya cita-cita dan ingin agar seluruh ahli penduduk langit dan bumi memuji kepada cucunya ini. Akhirnya kata para Ulama, Allah wujudkan harapang dari kakeknya tadi sehingga dapat dikatakan pula bahwa nama adalah harapan orang tua. Nah bagaimana dengan nama kita? Mengandung harapan apa…?
Ketika Abdurrahman Bin Auf mengganti namanya, munculah masalah dengan teman-teman jahiliyyahnya. Dalam kisah ini disebutkan begitu ketemu dengan temannya Umaiyah.
Umaiyah berkata, “Wahai Abd Amer, apakah kamu tidak suka dengan nama yang diberikan oleh Bapak kamu?”  Sy, Abdurrahman RA menjawab, “ Ya, saya tidak senang dengan nama yang diberi oleh bapak saya”. “Saya tidak kenal dengan yang namanya Arrahman, saya akan panggil kamu dengan nama lain saja” kata Umaiyah.

Umaiyah menunjukkan kebenciannnya sebagai orang kafir yang tidak suka dengan nama-nama Islami. Jadi, seseorang yang kafir, pikirannya murni kafir itu sejak dari dahulu sampai sekarang benci dengan nama-nama Islam. Makanya di antara dakwah mereka adalah memunculkan dan mengagungkan nama-nama yg tidak perlu dimunculkan dan diagungkan sehingga ummat Islam lupa sama Nama bintang Islaminya dan lupa akan harapan apa dibalik nama tsb.
Akhirnya dibuatlah semacam kesepakatan bahwa Umaiyah akan memanggil Sy, Abdurrahman bin Auf RA dengan panggilan “Abdul Ilah”. Maka suatu ketika Sy Abdurrahman RA berjalan melewati Umaiyah. Kemudian Umaiyan memanggil Abdurrahman dengan panggilan Abdul Ilah, maka sy Abdurrahman Bin Auf RA pun menoleh dan akhirnya ngobrol dengan Umaiyah. Begitu Beliau hijrah ke Madinah, Sayyidina Abdurrahman RA menulis surat agar Umaiyah menjaga kerabatnya begitu juga Abdurrahman RA bakal menjaga kerabatnya Umaiyah yang ada di Madinah.
Pada kisah sebelumnya telah diceritakan bahwa akhirnya Umaiyah Bin Kholaf sampai juga di Perang Badar. Saat itu, Umaiyah pergi bersama anaknya, Ali Bin Umaiyah. Keikutsertaan Umaiyah di Perang Badar kemudian diketahui oleh Sy Abdurrahman Bin Auf RA. Pada waktu itu, Sy, Abdurrahman sedang membawa baju besi yang didapat dari rampasan perang. Kemudian mereka berdua bertemu.
Ya Abdul Amr!” panggil Umaiyah tetapi Sy, Abdurrahman tidak noleh. “Ya Abdul Ilah!” dipanggil lagi oleh Umaiyah kemudian  Sy, Abdurrahman baru menoleh. Sy, Abdurrahman ditawari untuk menawan Umaiyah. Ini adalah tawaran yg menggiurkan sebab satu orang tawanan memiliki nilai tebusan sebanyak 4000 dirham atau sekitar 200 juta (ini jika krus 1 dinar = Rp50rb bahkan bisa lebih) . Sy, Abdurrahman kemudian setuju dan membuang baju besi yang ia bawa. Tangan Umaiyah kemudian diikatkan kepada tangan Sy, Abdurrahman. Umaiyah berkata “Saya tidak pernah tahu perang seperti hari ini sama sekali, ini perang luar biasa, aneh bin ajaib. Kok bisa kalah” kata Umaiyah.
Akhirnya Sy, Abdurrahman keluar dari perang membawa 2 tawanan yakni Umaiyah dan anaknya. Anak umaiyah, Ali bin Umaiyah bertanya kepada Sy, Abdurrahman “Ya Abdul Ilah, siapa laki-laki yang punya tanda di dadanya itu?” “Itu Hamzah” Jawab Abdurrahman. Sayyidina Hamzah Bin Abdul Mutholib adalah sahabat yang berhasil menekuk lutut Umaiyah. Tiba-tiba, mereka bertiga bertemu dengan Sy, Bilal Bin Rabbah. Sy, Bilal RA merupakan orang yang dulu pernah diazab oleh Umaiyah dengan memanggangnya di panas padang pasir. Begitu bertemu, Sayyidina Bilal berkata “Itu dedengkot kekufuran, saya tidak bakal selamat kalau dia juga masih hidup”. Sy, Bilal pun berteriak “wahai para sahabat Anshoor…!! ini dia si Musuh Allah Umaiyah bin Kholaf”. Kemudian teman-teman Anshor berdatangan dan sepontan mengejar Sayyidina Abdurrahman, Umaiyah dan juga anaknya.
Begitu dikejar, Sy, Abdurrahman melakukan siasat cecak. Nah, cecak itu kalo ingin selamat ninggalin buntut atau ekornya untuk mengalihkan perhatian biar tidak ngejar badan. Akhirnya supaya selamat, maka Sy, Abdurrahman melepaskan Ali kemudian dia lanjut melarikan diri. Walaupun begitu, Sahabat Anshor tetap mengerjar Sy, Abdurrahman dan Umaiyah. Namun Karena badan Umaiyah yang besar, maka larinya jadi berat dan terkejar oleh Sahabat Anshor. Seketika itu, Sy, Abdurrahman menyuruh Umaiyah untuk telungkup. Sy, Abdurrahman kemudian melindungi tubuh Umaiyah dengan meniban badannya. Dikepunglah mereka itu oleh pasukan Nabi Muhammad SAW. Anaknya yang sebelumnya telah dilepaskan, melakukan perlawanan. Akan tetapi, karena masih anak-anak, mudah saja kakinya ditebas dan terputus. Melihat anaknya gagal melawan terlukan dan terbunuh, Umaiyah pun kemudian berteriak dengan teriakan yg sangat keras, nangis, dan sedih. Tidak terima dengan apa yang terjadi terhadap anaknya. Sy, Abdurrahman kemudian menyuruh Umaiyah untuk lari menyelematkan diri sendiri. Sahabat Anshor mencoba menusuk beberapa kali tetapi tidak mengenai Umaiyah. Umaiyah kemudian lari membawa pedang dan rampasan perang. Bahkan Sayyidina Abdurrahman sempet terserempet pedang Sahabat Anshor karena melindungi Umaiyah. Sy, Abdurrahman menyesali perbuatan dan sikapnya Sy, Bilal RA. Namun demikian tidak ada kebencian pada keduanya dan bahkan Sy, Abdurrahman jika ingat akan kisah tsb maka Beliau mendoakan Sy, Bilal dan berkata “Semoga Allah merahmati Bilal, Aku kehilangan baju rampasan perang juga kehilangan tawanan perang”. Berbeda dengan kita, kalo kita mungkin sudah saling menyalahkan dan nyumpahin bukan ngedoain. Itu merupakan adab para Sahabat Nabi Muhammad SAW. Ada banyak yang bisa dipelajari. Nanti juga akan diceritakan ada seseorang yg digelari Rasul SAW dengan gelar si cecak anak si cecak yakni suka bikin gara-gara dan begitu sudah mulai ribut dia pun kabur persis semacam provokator.
Di akhir kisah diceritakan kemudian Umaiyah lari ke tempat di mana dia bakal terbunuh seperti yang telah dikatakan Nabi Muhammad SAW di saat sebelum peperangan di mulai. Maha Benar Allah swt dan RasulNya
Demikian ringkasan dari ceramah dan kajian sirah nabawi bersama Ust Ahmad said. Semoga bermanfaat dan Insya Allah bersambung di kesempatan yg akan datang…

Sabtu, 02 November 2013

RENUNGAN DI AKHIR TH 1434 H

Posted by Unknown On 00.43 | No comments
Alhamdulillah sebentar lagi kita berganti tahun dari 1434 H menjadi 1435 H … 
itu semua adalah waktu .. yg merupakan makhluk di antara makhluk ciptaan Allah swt. Dia akan kembali menghadap kpd Allah dan melaporkan segala apa yg terjadi di dalamnya. Jadikanlah tahun 1434 H ini sebagai saksi akan kebaikan kita di sisi Allah dengan kita menjaga dan mengisi akhir tahun ini dengan iman dan amal sholeh. sebab Rasulullah bersabda ” sesungguhnya segala urusan itu dipandang tergantung bagaimana cerita akhirnya”. Biarkanlah dia kembali kepada Allah dengan membawa  laporan yg baik tentang iman dan amal sholeh kita.
Saudaraku…udah berapa tahun yg kita kotori di dalamnya dengan kedurhakaan kpd Allah swt. Berapa tahun yg sudah kita lewati tapi tidak ada pertambahan kebaikan yg tampak dalam diri dan prilaku kita…? apakah yg kurang di dalam tahun tsb..? Bukankan yg memberi hidayah tetap Allah swt…? Bukankah yg memberi pertolongan kepada shohabat di Zaman dulu maka Dialah pula yg memberi pertolongan pada zaman kita sekarang…? Mengapa kita mesti mencari kambing hitam dan menyalahkan dan berkata “zamannya sekarang sudah berbeda..” Bilangan tahunnya berbeda tapi yg menciptakannya tetaplah Allah swt.
Memang Rasulullah mengabarkan “tidaklah datang suatu tahun kecuali tahun yg akan datang itu lebih buruk dari pada tahun sebelumnya”.. Apa maksudnya..? apakah berarti tidak ada kebaikan.. apakah berarti bahwa kita harus menyerah dan ikut di dalam keburukan..? Saudaraku Rasulullah SAW mengabarkan hal demikian tentu yg terjadi pasti demikian adanya. Beliau mengabarkan bukan untuk agar kita menyerah pada keburukan zaman dan menjadikan hadis itu sebagai alasan. tapi ingatlah bahwa hadis itu adalah sebuah pukulan, cambuk dan pacuan agar jika keburukan bertambah maka harus bertambah pula semangat kebaikan kalian. Jika keburukan meningkat maka tambah pulalah berbagai niat kebaikan dan segala tekad. Jika kejahatan semakain merebak.. maka tambahlah kualiatas munajat dan doa minta tolong kpd Zat yg maha Kuasa yg kebaikannya tidak bisa ditebak. Apakah kita berkeyakinan bahwa Allah di zaman akhir dan penuh fitnah ini sudah lemah..? Apakah Allah tidak bisa menyelamatkan kita dari Fitnah TV, Internet, pergaulan dan segala keburukan zaman..? Bukankah Allah tetap seperti dahulu dan sampai kapan pun bahwa Dia lah yg Maha Perkasa dan yg Menentukan..?
Kenapa tidak anda rubah di zaman TV ini bahwa TV harus menjadi sarana dan sumber ilmu dan kebaikan. Kenapa tidak anda yg merubah di zaman Internet dan FB ini .. Internet dan FB sarana dan wasilah penyebar hidayah, ilmu dan kebaikan…? kemanakah akal yg Allah berikan kepada kalian…? atau kah kalian di zaman ini sudah berubah karena waktu menjadi hewan yg tidak lagi memerlukan dan mengindahkan arahan al-Quran..?
Saudara ku …ingatlah bahwa waktu itu adalah makhluk yg kosong sedangkan kita manusialah yg mengisinya.. apakah dengan keingkaran dan amal negatif / maksiat atau dengan keimanan amal positif yakni ketaatan. Kenapa perbuatan dan kebaikan kita harus terpengaruh oleh perbuatan orang lain di suatu waktu dan zaman…? Kalau kita memang orang baik..kita akan tetap baik walau di suatu waktu banyak orang yg tidak baik. Kalau kita orang baik…kita akan tetap baik walau di suatu tempat banyak yg tidak baik. Kalau kita baik walau orang berbuat tidak baik kepada kita, maka kita akan tetap berbuat baik dan kebaikan kita tidak terpengaruh karena kita memang orang baik… Dan jika kita orang baik..kita akan mampu mengisi dan mewarnai ruang dan waktu ini dengan segala hal yg baik dengan Iman, Amal Sholeh, Menasehati dg kebenaran dan kesabaran…
Saudaraku ..Allah sudah menjadikan kebaikan itu ada pada anda..Anda adalah termasuk ummat yg terbaik. Bersyukurlah..akan nikmat tsb dan gunakan kesempatan itu untuk bener-bener membuktikan bahwa anda adalah ummat yg terbaik.. Mari di akhir tahun 1434 H ini kita mengisi segala ruang dan waktu yg kita ada di dalamnya dengan segala kebaikan baik berupa iman dan amal sholeh. Semoga di akhir tahun ini kita tercantum sebagai orang orang yg baik dan diterima segala kebaikannya dan diampuni segala kekurang baikannya karena memang kita masih punya kebaikan di akhir tahun ini…semoga..
“INGATLAH BAHWA DI SEPANJANG ZAMAN DAN DI ZAMAN APA PUN KRITERIA ORANG YG RUGI TIDAK PERNAH BERUBAH dan TIDAK AKAN DIRUBAH. MEREKA ITU ADALAH ORANG-ORANG YG LEMAH DAN TIDAK MAMPU HANYA SEKEDAR untuk BERIMAN DAN BERAMAL SHOLEH serta SALING MENASEHATI dalam KEBENARAN dan KEBAIKAN”
Hadiah Nasehat dari Saudara kalian yg masih berusaha ingin menjadi orang baik dan lebih baik yg selalu mengharap doa kebaikan dari kalian semua..Mohon Maaf atas segala kekhilafan… Ahmad said (Abu Husen) Pembina MT Darul Futuh

Jumat, 01 November 2013

Assalamualaikum Wr Wb
BENARKAH KITA BELUM DIBERI HIDAYAH atau KITA BELUM MAU MENCARI HIDAYAH…??
Semoga Keselamatan, Rahmat dan hidayah dari Allah tercurah bagi kita di pagi hari ini…
Yakin 1000% tiap hari Allah melimpahkan dan mencurahkan Rahmat tsb ke bumi..tapi sebagaimana turunnya hujan terkadang Allah menurunkan di tempat tertentu dan tidak mencurahkan di tempat yg lain karena hikmah yg hanya Allah lah yg mengetahuinya…
Artinya wahai segenap saudaraku seiman yg dirahmati Allah…
Kalau ingin mendapatkan rahmat dan hidayah kita juga harus melihat tanda2 alam, di mana ada mendung dan di mana ada turun hujan..kalau kita tetap bertahan di dalam rumah dan di kampung kita yg tidak terkena dan jauh dari turunnya maka jangan lah beralasan “Allah belum memberi hidayah dan rahmat kpd kita”..tapi kitalah yg tidak mau mencari dan berusaha mendapatkan curahan hujan tsb di daerah yg Allah tetapkan turunnya hujan. Justru perkataan kita yg demikian itu, menunggu dapat hidayah dan taufiq tanpa usaha itu adalah bentuk kemalasan dan penentangan kita terhadap Allah swt. Kenapa jika masalah Rizki kita ngotot mengatakan harus berusaha dan mencari tapi jika hidayah dan rahmat Allah kita hanya menanti?? Kalau kita diajak ke pengajian atau ke majelis kita beralasan “yaah gimana yaa..pingin Sih…mungkin saya belum dapat hidayah atau taufiq”. Padahal Rizki, hidayah dan Rahmat dan taufiq semuanya adalah dari Allah SWT..kenapa tidak semuanya saja kita nantikan datang sendiri dengan duduk di rumah termasuk masalah Rizki yg jelas sudah ditanggung dan dijamin sama Allah SWT tidak usah usaha dan bekerja mencari Rizki ke pasar, kantor dan sebagainya..Silahkan anda duduk saja di rumah..tentu orang lain akan mengatakan kenapa kamu tidak mencari Rizki, knp kamu malas bekerja..?. Itulah bentuk penentangan kita kpd Allah yg memberi rizki kpd kita sejak kita di kandung ibu belum bisa berusaha apa apa. Sudah jelas dijamin dalam ayat tapi kita tidak percara malah terus meminta dan mencarinya. Tapi terhadap masalah akherat, pahala, surga neraka yg kita tidak mempunyai jaminan yg jelas dari Allah swt justru kita merasa percaya bahwa Allah maha Merahmati dan Mengampuni padahal setiap hari kita lebih sering mencari murka Allah dan Azab Allah dari pada mencari rahmat, hidayah dan ampunan dari Allah swt. Apakah benar memang Allah belum meberi hidayah kpd kita atau itu sekedar alasan belaka…?
Begitu juga bagi setiap saudara-saudara yg duduk di rumah tidak berusaha dan mencari di mana Allah mencurahkan dan menurunkan Hidayah dan RahmatNya, tidak mau hadir ke majelis, tidak mau bertanya kpd Ulama, tidak mau membaca dan mengkaji Al-Quran dan kitab para Ulama, tidak mau mendengarkan kajian dan ceramah para pedakwah maka kami katakan…: kenapa kamu malas mencari hidayah, mengapa kamu tidak berusaha mendapatkan Rahmat..? Bukan kah Allah SWT sudah  berfirman
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ (55) أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ (56) أَوْ تَقُولَ لَوْ أَنَّ اللَّهَ هَدَانِي لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (57) أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (58) بَلَى قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَّبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ (59)
  Dan ikutilah hal terbaik yang telah diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian sebelum datang kepada kalian suatu azab yg tiba-tiba sedangkan kalian tidak merasa (55) (maka segeralah sebelum datangnya azab itu sebelum ) seorang akan berkata “ohh betapa menyesalnya atas segala yg telah aku teledorkan dalam hal yg berkaitan dengan ketaatan kpd Allah swt dan sungguh dulu aku termasuk orang-orang yg melecehkan/meremehkan (akan agama Allah) (56) atau seseorang berkata (mencari-cari alasan) “andai kata saya dulu diberi hidayah oleh Allah pasti aku akan termasuk orang-orang yg bertaqwa” (57) atau seseorang akan berkata di saat dia melihat azab Allah “andai kata ada kesempatan kembali ke dunia maka saya akan menjadi orang sholeh (58) (dijawab oleh Allah SWT) tidak demikian sungguh telah datang kepada mu akan ayat-ayat KU (ajaranKu, para RasulKu, para PedakwahKu dst) dan kamu mendustakannya dan kamu merasa sombong dan kamu termasuk orang yg mengingkari (tidak mau ngaji, tidak mau mendengar dst)

Dan Kami pun di Majelis Darul Futuh mengatakan…benar Ya Allah ..kami sudah berusaha mengajak, menyediakan program dan sarana dakwah baik tahunan, bulanan, mingguan dan setiap hari…Status FB pun kami udah Update hampir setiap hari..tapi begitulah Ya Allah Engkau lebih mengetahui kabar apa yg mereka pilih, berita apa yg mereka baca dan mereka dengarkan…dan akhirnya kami pun hanya bisa mengatakan :
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون
“Ya Allah berikanlah hidayah kepada kaum ku, kepada teman-2 Fbku dan semua yg akan berteman dengan ku..sesungguhnya mereka belum mengetahui”
فإن تولوا فقل حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم
“kalau jika mereka berpaling / tidak mau maka katakanlah – cukuplah bagiku Allah SWT yg tidak ada tuhan selain Dia dan kepadaNya lah aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan Pemilik Arsy yg Agung”

Ya Allah Arys yg agung dan sangat besar aja bisa Engkau urusin dan Engkau angkat..masak sih repot dan susah kalau memberi hidayah kpd mereka yg berpaling…???
Mari kita menyodorkan diri kita di tempat  dan  Allah menurunkan hidayah dan rahmatNya…
Simak dan ikutilah selalu situs FB dan situs MT Darul Futuh. Semoga semakin bisa menambah hidayah dan keberkahan dalam hidup kita semua…
semoga usaha kita diiringi hidayah, rahmat dan Keridhoan dari Allah SWT…
Ya Allah hanya ini yg kami mampu..terima dan Qobulkanlah…
Assalamulaikum Wr Wb
INTERNET dan FB bukan KEBATHILAN…
tapi sarana untuk Meluncur ke surga dengan Kecepatan tinggi Up to 7,1 MB
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yg telah memberi kita Ni’mat yg tidak terhitung semoga Allah menyempurnakan segala nikmat yg telah Allah berikan kpd kita di pagi ini 7 Senin 2013…sehingga menjadi Nikmat yg kekal abadi, menjadi penyebab dan wasilah bagi kita mendapatkan kenikmatan Surga dan Ridho Allah SWT…
Bukankan Rasulullah mengajarkan kpd kita dan mengingatkan kpd kita dalam doa di saat kita menghadapi hidangan makanan NAbi Kita Muhammad SAW mengajarkan :
اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار
Ya Allah berkahilah nikmat yg telah Engkau berikan kpd kami ini, dan Jagalah kami dari Azab Neraka
Suadara saudaraku seiman segama..kenapa di saat kita mendapatkan nikmat bisa punya makanan dan hendak memakannya kita diajarkan agar semoga kita dijaga dari azab Neraka…? iyaa..itu adalah nikmat tetapi kalau kita tidak mensyukurinya..tidak menggunakannya sebagaimana yg Allah swt perintahkan, yg Allah cintai dan ridhoi akhirnya energi dari makanan yg kita hasilnya menjadi sebab kita kuat untuk bermaksiat kpd Allah dan melanggar perintah Allah. Isyarat bahwa nikmat di dunia belum sempurna dan akan menjadi sempurna dengan kita memakainya dalam hal yg diperintah, dicintai dan diridhoiNya sehingga menjadi kenikmatan yg hakiki di surga..
Saudara-saudaraku seiman dan seagama…Apakah niakmat adanya teknologi, Internet, FB, HP dan nikmat lainnya itu Allah ciptakan untuk kebatilan dan untuk bermaksiat kpd Allah…??? Bukankan Allah SWT sudah berfirman di dalam Al-Quran tentang orang yg berakal bagaimana sikap dia di saat memikirkan ciptaan Allah dia sepontan berkata mengambil kesimpulan..:
الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات والأرض ربنا ما خقلت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار……
(Orang yg berakal) adalah orang orang yg senantiasa berzikir kpd Allah dalam keadaan berdiri, lagi duduk (MAIN LAPTOP, Chatting, FACEbookan dsb) lagi berbaring dan yg senantiasa memikirkan akan segala cipttaanNya yg di langit dan di bumi. (di saat dia fikirkan karena dzikirnya sudah mantap dan dalam segala keadaan maka dia pun berkata dan mengambil kesimpulan) YA Allah yg tuhan ku tidak lah  Engkau ciptakan (laptop, Internet dan FB dll) ini adalah untuk kebathilan Maha Suci Engkau maka jagalah kami (di saat menggunakan Laptop, Internet dan FB tsb jangan sampai menjadi sebab kami mendapat) azab Neraka.

Kamis, 31 Oktober 2013

Resensi Kajian Tafsir Harian di MT Darul Futuh Rabu 30 Okt 2013.
Tafsir Surat As-Sajadah Ayat 10 :
وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ (10)
“Dan mereka (orang musyrik) berkata : Apakah jika kami sudah hancur dan hilang di dalam bumi (terkubur) apakah kelak kami akan diciptakan baru lagi? Mereka (tidak hanya bertanya saja) bahkan mereka mengingkari akan perjumpaan dengan tuhan mereka”.
Ulama Ahli Tafsir berkata
يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنِ الْمُشْرِكِينَ فِي اسْتِبْعَادِهِمُ الْمَعَادَ حَيْثُ قَالُوا: {أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرْضِ} أَيْ: تَمَزَّقَتْ أَجْسَامُنَا وَتَفَرَّقَتْ فِي أَجْزَاءِ الْأَرْضِ (3) وَذَهَبَتْ، {أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ} ؟ أَيْ: أَئِنَّا لَنَعُودُ بَعْدَ تِلْكَ الْحَالِ؟! يَسْتَبْعِدُونَ ذَلِكَ، (4) وَهَذَا إِنَّمَا هُوَ بَعِيدٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى قُدْرَتهم الْعَاجِزَةِ، لَا بِالنِّسْبَةِ إِلَى قُدْرة الَّذِي بَدَأَهُمْ وَخَلَقَهُمْ مِنَ الْعَدَمِ، الَّذِي إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ؛ وَلِهَذَا قَالَ: {بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ} [تفسير ابن كثير ت سلامة 6/ 360]
Berkata Imam Ibnu Kastir di dalam kitab Tafsirnya :
Allah swt berfirman mengabarkan tentang orang musyrik dalam hal bahwa mereka menganggab mustahil akan hari kebangkitan yakni ketika mereka mengatakan : “apakah jika kami sudah hilang di dalam bumi” yakni badan kami sudah hancur dan tercerai berai di dalam bagian perut bumi dan sudah sirna “apakah kami sungguh akan dalam penciptaan yg baru?” yakni apakah kami akan dikembalikan setelah keadaan kami sedemikian tersebut? Mereka menganggap hal tsb tidak mungkin atau jauh dari akal manusia. Dan yang demikian ini sebenarnya sangat jauh dari akal manusia jika sandarkan dan didasarkan kepada kekuatan mereka (manusia) yg sangat lemah. Tidak demikian jika disandarkan dan didasarkan kepada Sang Pencipta mereka dari awal yg mana awalnya menciptakan mereka dari ketidakadaan, yang mana (Sang Pencipta tsb) perintahNya jika menghendaki akan sesuatu hanya cukup berkata ‘jadilah’ maka akan terjadilah hal tsb. Oleh karena itu Allah berfirman “Bahkan mereka mengingkari akan perjumpaan dengan Tuhan mereka”.

Komentar Saya :

Allah swt di dalam surat As-Sajdah setelah sejak awal menceritakan bahwa al-Quran itu adalah ajaran dan pedoman hidup yg diturunkan oleh Allah swt bagi manusia yg mana tidak ada keraguan di dalamnya dan berisi kebenaran dan mendatangkan kebenaran. Kemudian Allah swt di dalam ayat selanjutnya menceritakan bahwa Allah yg menciptakan dan mengatur langit dan bumi, yg mana hal tersebut jika kita perhatikan bahwa dengan aturan dan pedoman dari Allah lah, –  yg terkadang aturan Allah itu kita sebut dengan Istilah hukum alam (istilah ini dipopulerkan agar kita lupa akan ayat ini) yg mana seharusnya kita sebut ‘Tadbiir Robbani’ – (diambil dari ‘Yudabbirul amro’), segalanya jadi berjalan berkesesuaian dan membawa maslahat dan manfaat bagi manusia. Angin bisa sepoi-sepoi. Matahari ,  bulan dan bintang tidak bertabrakan dan tidak terlambat terbitnya. Coba manusia yg diberi hak mengatur di langit dan di bumi, pasti langit dan bumi akan kacau sebagaimana terjadi di banyak belahan bumi yg diatur manusia tidak menggunakan aturan Allah. Yg terjadi malah kekacauan, kriminal, kejahatan dst jauh dari kedamaian, aman dan kebahagiaan itu sendiri.
Kemudian Allah swt menceritakan akan bagaimana awal mula penciptaan manusia dan keturunannya.  Bagaimana asal usul bahan dasarnya yg dari situ kita bisa mengerti karakteristik manusia sebagaimana bahan dasarnya yakni tanah tembikar. Jika airnya pas dan murni mudah dibentuk. Tapi jika kecampuran pasir dan kebanyakan air pun maka akan susah dibentuk.  Allah juga menceritakan bagaimana nikmat pendengaran, penglihatan dan hati manusia yg sejak lahir terus berkembang bertahap sesuai dan seiring sejalan sebagaimana yg Allah swt telah atur. Bayangkan jika untuk masalah penglihatan saja pertumbuhan dan perkembangannya diserahkan manusia. Berapa banyak yg akan mengalami kegagalan penglihatan. Tetapi Allah telah memberikannya dan menyempurnakannya bagi kita yg tadinya ada mata sejak lahir tapi belum bisa berfungsi dan akhirnya Allah swt pula yg memfungsikan mata tersebut. Itu semua diluar campur tangan manusia, semata mata nikmat dari Allah dan bentuk kekuasaan Allah swt yg bisa kita lihat dan rasakan.
Baru kemudian Allah menceritakan akan kekufuran dan kebodohan manusia yg mengingkari akan hari kebangkitan yg seharusnya jika selama ini dia melihat, meneliti, menggunakan akalnya dan merenungi akan segala yg terjadi di alam dan dalam dirinya, tentu dia tidak akan mengingkari  hari kebangkitan dan kekuasaan Allah swt tsb. Bahkan permasalahannya mereka tidak hanya tidak meneliti dan merenung. Kalau pun mereka sudah melihat dan menyaksikan tanda kebesara Allah seperti mukjizat yg terjadi pada Rasulullah pun mereka akan tetap mengingkari akan hari perjumpaan dengan Allah swt. Hal disebabkan karena mereka terlalu mengagungkan akan akal dan logika. Dan sayangnya pendidikan generasi muda dan anak-anak kita lebih mengedepankan akal dan logika ketimbang masalah keimanan dan kepasrahan terhadap Allah swt.
Di dalam Al-Quran Allah swt mengulang perkataan dan pertanyaan yg senada dengan hal tsb, yakni masalah ketidak percayaan mereka akan hari kebangkitan dan adanya pembalasan. Seperti dalam surat yasin : {قَالَ مَنْ يُحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ (78)} [يس: 78]
juga dalam surat al-Waqiah {وَكَانُوا يَقُولُونَ أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (47)} [الواقعة: 47]
juga dalam surat as-Shoffat : {أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (16)} [الصافات: 16] dan beberapa tempat lagi di dalam al-Quran. Mengapa demikian karena ini adalah masalah inti dan kunci. Yakni bahwa seluruh perbuatan dan perilaku manusia itu muncul, terjadi dan terlaksana dengan baik tergantung dari system kepercayaan yg terbentuk dalam diri manusia. Dan dari ruang lingkup masalah inilah muncul semua perbuatan, karya, perilaku, penelitian, ibadah dan kemaksiatan di muka bumi. Awalnya bermula dari adanya keyakinan, kepercayaan dan keimanan akan kebangkitan dan pembalasan dari Allah swt. Atau sebaliknya karena tidak adanya keyakinan, tidak percaya dan ingkar atau persepsi yang salah akan kehidupan di dunia ini dan bagaimana nanti kesudahannya setelah kematian dan kiamat.
Gambaran sederhananya adalah jika di malam hari yg sudah larut dan sepi kendaraan ada seorang pengendara motor melewati perempatan yang lampu merahnya masih hidup dan saat itu menyala merah. Apa yg akan dia lakukan tergantung dari system kepercayaan yg ada pada diri pengendara tersebut. Jika dia yakin sudah malam ga ada yg lalu lalang dan tidak akan ada kendarakan yg tiba-tiba lewat maka dia akan menerobos lampu merah karena menurut keyakinan dan kepercayaan dia aman-aman saja kok dan lagian tidak ada polisi. Tapi jika di dalam kepercayaan dia tertanamkan bahwa terkadang polisi bersembunyi di depan dan setelah kita menerobos lampu merah dia akan menilang kita maka si pengendara tadi tentu akan bersabar menunggu lampu merah sampai berganti hijau. Padahal belum tentu benar di depan ada polisi yg menghadang dst.
Kaitannya dengan ayat ini adalah, jika setiap individu manusia yakin dan percaya bahwa dia di dalam hidup dan kehidupan ini bukan suatu kesia-siaan dan kebetulan saja, akan tetapi adalah suatu pengabdian yg akan kita pertanggungjawabkan segala detail ucapan dan perbuatan kita di hari kebangkitan dan perjumpaan dengan Allah sang Pencipta, tentu kita akan selalu perhatian, hati hati dan pertimbangan dalam setiap perilaku dan perkataan sekecil apapun hal tsb. Sebab dia yakin dan percaya bahwa di dunia ini sementara dan singkat sedangkan di akherat itu sangat panjang dan kekal sehingga dia lebih memilih bersabar mengikuti aturan perintah dan larangan dari Allah swt. Iyaa dari pada dia harus menerima siksa selama seribu tahun di akherat gara gara dia pernah bermaksiat sekali saja dalam sehari ketika dia di didup dunia wal’iyadzubillah. Bagaimana kalau dia sehari melakukan sekian kali maksiat, maka berapa lama siksa yg akan dia terima di akherat kelak…?
Dari keyakinan inilah maka tidak heran jika dikatakan kepada Sayyidina Umar bin al-Khottob yg saat itu menjabat sebagai ‘Amirul Mukminin’ : “wahai amirul mukminin, kenapa anda tidak istrihat (tidur) di siang atau di malam hari”. Maka Pemimpin orang-orang yg beriman ini dengan penuh yakin menjawab singkat : ”jika aku tidur siang hari maka aku akan menelantarkan rakyatku, jika aku tidur di malam hari maka aku akan menelantarkan diriku sendiri kelak di hari kiamat”. Iya Beliau karena keyakinannya yg kuat berkat pendidikan ruhani dari Rasulullah SAW maka Beliau rela bersabar mengambil keputusan sedemikian itu yakni tidak tidur siang dan malam selama menjadi kholifah. Kenapa..? Beliau yakin bahwa kelak akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyat yg dipimpinnya. Dan di malam hari pun Beliau begadang beribadah karena takut siang harinya banyak keteledoran dan dosa maka bisa ditebus dan dimintakan ampun dengan begadang di malam hari beribadah, bermunajat mengharap rahmat dan ampunan dari Allah swt.
Bagaimana dengan kita saudaraku….?? yg masih enak tidur di siang dan malam hari. Iyaa itu  karena keyakinan kita akan nikmat umur dan segala nikmat dhohir batin ini akan dipertanggungjawabkan masih rendah dan sangat minim. Bahkan terkadang kita ragu dan lupa akan pertanggungjawaban itu. Oleh karena itu Allah swt berifrman di ayat berikutnya di surat yg sama di saat mereka melihat dan menyaksikan janji Allah benar mereka meminta dikembalikan ke dunia supaya bisa beramal sholeh (as-sajdah ayat 12). Dan di ayat berikutnya Allah katakan : “rasakan lah akibat kelupaan kalian akan hari perjumpaan (pertanggungjawaban) ini”.
Semoga tulisan singkat ini bisa memacu kita untuk menambah amal sholeh dan memperhitungkan segala perbuatan dan perkataan kita. Bagaimanakah nilainya di sisi Allah..? apakah yg kita lakukan itu ada pahalanya..? wajib, sunnah atau mubahkah…?? atau kita masih tidak percaya dan terus melakukan hal hal yg mubah, makruh dan bahkan yg haram. Wal iyaazubillah.
Imam Ghozali berkata dalam kitab bidayatul hidayah : perintah wajib dari Allah itu adalah modal pokok (bagi keselamatan kita di akherat) dan amalan yg sunnah itu adalah keuntungannya. Maukah anda Jika di dalam dagang selama 10 tahun modal 10 juta ternyata setalah selama itu kita hitung hanya balik modal saja yakni masih tetap 10 jt..? bagaimana dengan umur kita yg sudah berlalu sekian lama ini..? sudah berapakah keuntungan kita yg bisa kita harapkan untuk meraih keselamatan, kebahagiaan dan derajat di Akherat..? semoga kita semua termasuk orang yg beriman dan mendapat keuntungan dengan berusaha semaksimal mungkin menjaga waktu dan mengisinya dengan amal yg sholeh. Jika keyakinan dan iman kita meningkat maka amal sholeh dan sunnah pun akan meningkat.  Waallohu a’lam. wassalam

Like Fanspage

Radio ASWAJA